Operasi modifikasi cuaca di Riau semai 11 ton garam di langit

Operasi Modifikasi Cuaca di Riau Menaburkan 11 Ton Garam untuk Memicu Hujan Buatan

Modifikasi cuaca di Riau telah menaburkan 11 ton garam di atmosfer sejak 28 Maret hingga 1 April 2026. Tujuan dari langkah ini adalah untuk menghasilkan hujan buatan yang bisa membantu membasahi lahan, khususnya daerah gambut, yang rentan terbakar. Jim Gafur, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Damkar Riau, menjelaskan bahwa operasi ini adalah tahap kedua dari upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebelumnya, program serupa telah dijalankan pada awal Februari 2026.

“Operasi ini bertujuan memicu hujan buatan agar kondisi lahan, khususnya gambut, tetap lembap dan tidak mudah terbakar,” kata Jim Gafur di Pekanbaru, Sabtu.

Dalam operasi ini, fokus ditempatkan pada wilayah pesisir timur Riau, seperti Kabupaten Bengkalis, Indragiri Hilir, Siak, Pelalawan, dan Kota Dumai. Menurut Jim Gafur, kegiatan tersebut efektif dalam mengurangi risiko kebakaran di beberapa area. Selain pesawat modifikasi cuaca, Riau kini juga memiliki satu unit helikopter yang digunakan untuk water bombing. Ia menambahkan bahwa pihaknya sedang mengajukan penambahan helikopter, mengingat luasan karhutla terus meningkat.

“Kami sudah mengajukan kembali untuk helikopter water bombing, saat ini sedang diproses, karena perizinannya cukup panjang,” ujarnya.

BMKG Stasiun Pekanbaru mencatat 310 titik panas di Riau. Jumlah terbesar terdapat di Kabupaten Bengkalis, mencapai 273 titik. Wilayah lain seperti Pelalawan (15), Dumai (9), Indragiri Hulu (3), Indragiri Hilir (2), Kepulauan Meranti, dan Pekanbaru masing-masing memiliki satu titik. Sementara di Sumatra, total titik panas mencapai 405, dengan Riau menjadi provinsi yang paling banyak mengalami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *