Solution For: Musim kemarau, Muhammadiyah ajak warga siaga hadapi ancaman El Nino
Musim Kemarau, Muhammadiyah Ajak Warga Siaga Hadapi Ancaman El Nino
Jakarta – Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) mengundang seluruh relawan Muhammadiyah serta masyarakat umum untuk memperkuat persiapan menghadapi kemungkinan ancaman fenomena El Nino. Dalam wawancara di Jakarta, Senin, Wahyu Heniwat, perwakilan bidang Mitigasi dan Kesiapsiagaan MDMC, menekankan perlunya antisipasi dini melalui sistem peringatan dini dan penguatan persiapan yang lebih matang.
“El Nino merupakan fenomena yang perlu diwaspadai sejak awal. Penanganan bencana tidak hanya dilakukan saat kejadian, tetapi juga sebelum dan setelahnya,” jelas Wahyu Heniwat.
Kata Wahyu, dampak dari El Nino bisa mengganggu berbagai sektor kehidupan, termasuk ketahanan pangan, risiko kebakaran hutan, dan isu lingkungan lainnya. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan mampu mengenali risiko dan meningkatkan persiapan menghadapi ancaman bencana di masa depan.
BMKG mengungkapkan bahwa kondisi iklim global berpotensi berkembang menuju fenomena El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua 2026, dengan peluang sekitar 50-80 persen. Hal ini meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) di Indonesia.
“Kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Jika terjadi bersamaan, curah hujan akan menurun drastis, membuat kondisi lebih kering,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.
Menurut Teuku Faisal Fathani, saat ini El Nino Southern Oscillation (ENSO) masih dalam fase netral, namun ada indikasi penguatan yang perlu diwaspadai. Fenomena ini bisa memperparah musim kemarau, sehingga memerlukan langkah kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat.
Persiapan bersama diperlukan untuk mengurangi dampak negatif El Nino. Kewaspadaan tinggi dan pemetaan risiko bencana di wilayah masing-masing menjadi kunci dalam menghadapi tantangan iklim yang semakin kompleks.