Meeting Results: Geger Startup Tak Terkenal Ciptakan Chip Langsung dari Otak Manusia
Startup Inovatif Mengusulkan Solusi Berbasis Otak Manusia untuk Krisis AI
Dalam upaya mengatasi tantangan yang dihadapi oleh kecerdasan buatan (AI), sebuah startup bernama The Biological Computing Company (TBC) tengah mengembangkan teknologi unik. Berdiri pada bulan Februari 2026, perusahaan ini mendapatkan pendanaan awal sebesar US$25 juta atau setara Rp428 miliar. TBC berupaya menggantikan chip silikon tradisional dengan struktur komputasi yang menggunakan sel saraf manusia sebagai bahan dasarnya.
Di tengah meningkatnya risiko yang diakibatkan oleh kemajuan AI, seperti kehilangan pekerjaan, penyebaran informasi palsu, dan dampak psikologis, TBC mengangkat konsep baru. Teknologi ini mengubah data dunia nyata, seperti gambar dan video, menjadi representasi di dalam chip otak manusia. Laporan dari The Deep View, yang mengunjungi laboratorium TBC di kawasan Mission Bay, menjelaskan bahwa sel-sel saraf ini digunakan untuk meningkatkan efisiensi algoritma AI generatif.
Tim Ahli dari Berbagai Bidang Mendukung Proyek Inovatif
Perusahaan ini dipimpin oleh dua mantan ahli bedah saraf, Dr. Alex Ksendsovsky dan Dr. Jon Pomeraniec, yang didampingi tim 23 orang. Anggota tim berasal dari berbagai latar belakang, termasuk bidang komputerisasi visi, pengembangan AI, fisika komputasi, dan biologi. Banyak dari mereka pernah bekerja di perusahaan teknologi besar seperti Meta, Apple, dan Amazon.
Menurut laporan The Deep View, sel otak manusia dipilih setelah TBC awalnya menggunakan sel tikus. Chip yang dibuat memiliki masa pakai satu tahun dan menghasilkan limbah yang harus dikelola secara berkala. Ksendsovsky menyebut teknologi ini kembali ke prinsip dasar komputasi, yaitu memodelkan aktivitas saraf manusia.
“Kami sedang membangun produk. Kami ingin menunjukkan bahwa teknologi ini bisa dimonetisasi. Apa yang kami kerjakan sangat berbeda dari ekspektasi, sehingga dunia hanya perlu sedikit waktu untuk mengenali potensinya,” ujar Ksendsovsky.
Hasil penelitian TBC menunjukkan bahwa model AI yang dilatih dengan respons biologis mencapai performa tiga kali lebih cepat. Selain itu, metode ini membutuhkan iterasi pelatihan yang lebih sedikit serta mengurangi kebutuhan energi hingga tiga kali lipat. Meski belum menjual chip tersebut, perusahaan menggunakannya untuk memperkuat algoritma dalam bidang visi komputer, video generatif, dan rendering game.
Untuk mewujudkan skala produksi, TBC sedang berdiskusi dengan laboratorium model dasar AI, perusahaan keamanan siber, dan lembaga kurasi data. Namun, nama-nama mitra potensial belum diungkapkan. Ksendsovsky menargetkan teknologi ini akan menjadi bagian dari sistem inferensi real-time dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Meski demikian, ada tantangan besar, termasuk cara mengotomatiskan pengumpulan limbah dan memperpanjang masa hidup sel-sel tersebut.