Key Strategy: Maskapai Dunia Ramai-ramai Naikkan Tarif Pesawat & Batasi Penerbangan
Maskapai Dunia Ramai-ramai Naikkan Tarif Pesawat & Batasi Penerbangan
Industri penerbangan internasional sedang mengalami tekanan berat akibat kenaikan harga bahan bakar, yang dipicu oleh konflik Timur Tengah yang memasuki fase intensif sejak Februari lalu. Lonjakan biaya avtur berdampak langsung pada operasional maskapai, mendorong mereka untuk menaikkan tarif dan membatasi jadwal penerbangan demi mempertahankan kelangsungan usaha.
Harga avtur kini mencapai USD150-200 atau sekitar Rp2,5-3,4 juta per barel, meningkat tajam dalam beberapa minggu terakhir. Kondisi ini menyebabkan maskapai harus mengalokasikan sekitar 25 persen dari total anggaran operasional hanya untuk pembelian bahan bakar. Sebagai respons, sejumlah perusahaan udara global telah mengambil tindakan konkret, termasuk penyesuaian tarif dan pengurangan rute penerbangan.
“Kami akan mempertahankan kapasitas penerbangan meskipun di tengah tekanan biaya avtur yang tinggi,” kata CEO Cathay Pacific, menyoroti rencana kenaikan biaya bahan bakar sebesar 34 persen untuk seluruh rute, berlaku mulai 1 April 2026. Perusahaan tersebut juga berencana mengurangi 10 persen layanan jika permintaan menurun.
Beberapa maskapai mengambil langkah konkret. Aegean Airlines, yang berbasis di Yunani, menghentikan sementara penerbangan ke wilayah Timur Tengah. Hal ini menyebabkan penurunan pendapatan signifikan dalam kuartal pertama tahun ini. Di sisi lain, Airasia X melaporkan telah mengurangi 10 persen jumlah penerbangan ke seluruh jaringan perusahaan, sementara menaikkan tarif sekitar 20 persen untuk sebagian besar rutenya.
Maskapai dari Amerika Serikat seperti Alaska Air dan American Airlines juga mengalami dampak. Alaska Air meningkatkan biaya bagasi untuk penerbangan rute Amerika Utara, dengan tambahan USD5 dan USD10 untuk bagasi pertama dan kedua. Sementara American Airlines menaikkan tarif bagasi hingga USD150 untuk penerbangan domestik dan internasional jarak pendek, serta memangkas layanan kursi ekonomi.
Perusahaan penerbangan dari India, Air India, sedang mempertimbangkan revisi biaya tambahan bahan bakar berdasarkan jarak penerbangan. Sementara China Eastern Airlines mulai 5 April 2026 menaikkan biaya bahan bakar untuk penerbangan domestik, dengan kenaikan 60 yuan atau sekitar Rp150 ribu untuk rute hingga 800 kilometer. Air New Zealand juga mengumumkan penyesuaian jadwal hingga Mei dan Juni, serta kenaikan tarif sejak konflik Timur Tengah memanas.
Sejumlah maskapai seperti Cathay Pacific dan Akasa Air tercatat sebagai pelaku utama penyesuaian harga. Cathay Pacific meningkatkan biaya bahan bakar sebesar 34 persen untuk seluruh rute, sementara Akasa Air menetapkan tambahan biaya bahan bakar antara 199-1.300 rupee India atau sekitar Rp37.000-239 ribu untuk penerbangan domestik dan internasional.
Dengan lonjakan harga avtur yang terus berlanjut, industri penerbangan berharap kebijakan penyesuaian ini dapat mengimbangi kenaikan biaya operasional, meskipun ada risiko penurunan permintaan dari pelanggan.