Key Strategy: Saham Ambles 90%, Miliarder TikTok Ini Terancam Boncos
Saham Terjun Bebas, Kekayaan Miliarder TikTok Mengalami Penurunan Tajam
Jakarta, Perjanjian besar senilai hampir 975 juta dolar AS yang melibatkan selebriti TikTok Khaby Lame kini menghadapi tekanan serius. Penyebab utamanya adalah penurunan drastis saham perusahaan mitra, Rich Sparkle Holdings, yang mencapai hampir 90% dalam tempo singkat. Seperti dilaporkan Business Insider pada Selasa (14/4/2026), harga saham Rich Sparkle yang sempat menyentuh di atas 180 dolar AS kini jatuh ke sekitar 11 dolar AS. Perubahan ini langsung memengaruhi potensi penghasilan Lame, karena kompensasinya bergantung pada harga saham perusahaan tersebut.
Dalam kontrak, perusahaan Lame akan mendapatkan sekitar 75 juta saham baru dengan harga perkiraan 13 dolar AS per saham. Namun, nilai aktual yang diterima tergantung pada kinerja pasar. Artinya, bila harga saham turun, kekayaan yang diharapkan juga akan berkurang secara signifikan. Meski demikian, perjanjian ini belum resmi selesai atau mendapatkan persetujuan dari lembaga bursa. Dengan demikian, dampak nyata terhadap kekayaan Lame masih bersifat hipotetis.
Mengutip Business Insider, Selasa (14/4/2026), harga saham Rich Sparkle yang sempat melesat di atas US$180 kini terjun bebas ke kisaran US$11.
Rich Sparkle Incraekan Avatar AI untuk Mendorong Bisnis Global
Rich Sparkle berencana mengembangkan avatar kecerdasan buatan (AI) dari Khaby Lame guna memperkuat usaha e-commerce dan endorsement secara internasional. Target yang ditetapkan sangat ambisius, yakni potensi penjualan hingga 4 miliar dolar AS per tahun. Namun, beberapa ahli menilai target ini terlalu optimistis.
Mereka mengingatkan bahwa pasar live commerce di luar Tiongkok, termasuk Amerika Serikat, masih jauh tertinggal. Bahkan, platform besar di AS belum mencapai angka penjualan sebesar itu. Selain itu, model bisnis yang bergantung pada satu figur utama dianggap berisiko tinggi. Ketergantungan pada popularitas individu membuat valuasi perusahaan sulit diukur dan rentan terhadap fluktuasi.
Sejumlah perusahaan berbasis influencer sebelumnya juga mengalami kegagalan setelah melantai di bursa.