Key Strategy: Harga Emas Bergejolak Hebat, Ternyata Ini Penyebab Utamanya
Harga Emas Bergejolak Hebat, Ternyata Ini Penyebab Utamanya
Jakarta – Harga emas mengalami penurunan signifikan pada Senin, terpengaruh oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kembalinya kekhawatiran inflasi yang menghalangi proyeksi penurunan suku bunga di masa depan setelah perundingan damai AS-Iran gagal.
Merujuk Refinitiv, harga emas ditutup pada perdagangan Senin di posisi US$ 4739,18 per troy ons, turun 0,17%. Pelemahan ini memperpanjang tren penurunan yang berlangsung selama dua hari terakhir. Namun, logam mulia kembali menguat pada hari Selasa, mencapai US$ 4757,52 per troy ons atau kenaikan 0,39%.
Kenaikan dolar AS membuat emas yang dihargai dalam greenback lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Fluktuasi harga emas mengalami lonjakan dalam seminggu terakhir, sempat melonjak di awal pekan lalu, lalu ambruk pada akhir pekan dan awal pekan ini.
“Pasar emas saat ini sangat dipengaruhi oleh berita utama. Fokus pasar terpusat pada harga minyak mentah karena minyak akan menentukan inflasi, dan inflasi ini memengaruhi kebijakan Federal Reserve,” ujar Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures, kepada Reuters.
Setelah negosiasi damai AS-Iran gagal, militer AS mengumumkan akan memblokade kapal yang keluar dari pelabuhan Iran, sementara Teheran mengancam balasan terhadap pelabuhan negara-negara tetangga di wilayah Teluk.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,6% menjadi US$99,08 per barel, sementara Brent internasional melonjak 4,37% ke US$99,36 per barel. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi, membatasi ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga.
Suku bunga tinggi mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil, meskipun logam mulia ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Menurut FedWatch Tool dari CME, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 29% AS menurunkan suku bunga hingga akhir tahun, turun dari 40% sebulan lalu.
“Kami melihat aksi jual akibat perang ini sebagai hal yang sehat untuk prospek jangka panjang emas, karena posisi spekulatif berlebihan kini berkurang,” kata analis SP Angel.
Harga perak juga mengalami perubahan, meski turun pada hari Senin. Merujuk Refinitiv, harga perak ditutup di posisi US$75,58 per troy ons, turun 0,39%. Pelemahan ini berbanding terbalik dengan kenaikan 1,07% pada perdagangan Jumat lalu. Pada Selasa (14/4/2026) pukul 06.32 WIB, harga perak naik menjadi US$75,69 per troy ons, kenaikan 0,15%.
Ketidakpastian pasokan minyak di masa depan kemungkinan akan memicu permintaan struktural yang kuat terhadap perak melalui percepatan investasi panel surya fotovoltaik, kata Paul Wong, strategis pasar di Sprott Asset Management, menurut Reuters.