Key Strategy: Peneliti ITB dorong pengurangan pajak mobil, yakin bisa pacu penjualan
Peneliti ITB Mendorong Pengurangan Pajak Mobil sebagai Strategi Perekonomian
Dari Jakarta, seorang peneliti utama di Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan Institut Teknologi Bandung (ITB) menyarankan pemerintah untuk mempertimbangkan pengurangan pajak kendaraan bermotor. Menurutnya, langkah ini bisa menjadi faktor pendorong dalam meningkatkan penjualan dan mendorong pertumbuhan perekonomian nasional.
Analisis atas Beban Pajak Otomotif
Agus Purwadi menilai pajak dalam sektor otomotif Indonesia tergolong tinggi, terutama jika dibandingkan dengan rasio produk domestik bruto (PDB). Ia menuturkan bahwa komponen pajak yang terkandung dalam harga mobil mencapai 40 persen, berasal dari pengumpulan pajak pusat maupun daerah. Angka ini berdampak langsung pada harga jual kendaraan di pasar, membuatnya kurang kompetitif.
Menurut Agus, kebijakan perpajakan seharusnya diambil dari sektor yang sedang berkembang, bukan justru membebani aktivitas ekonomi yang menggerakkan pertumbuhan. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya evaluasi berdasarkan perbandingan (benchmarking) dengan negara-negara lain yang memiliki sistem pajak serupa. “Kalau kita membesarkan pajak, itu cenderung high cost ekonominya,” kata dia.
Proyeksi Peningkatan Penjualan dan Transisi ke Kendaraan Elektrifikasi
Lebih lanjut, Agus menyoroti bahwa stimulus fiskal yang diberikan pada masa pandemi sebelumnya berhasil memacu daya beli masyarakat. Dalam konteks ini, ia mengungkapkan bahwa pengurangan pajak bisa menjadi bentuk insentif yang efektif untuk mendorong peningkatan penjualan kendaraan. Selain itu, kebijakan tersebut diharapkan mampu mengurangi beban biaya ekonomi dan mendorong transisi ke teknologi kendaraan yang lebih ramah lingkungan.
Dalam studi terbaru, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mencatat bahwa insentif berbasis lokalisasi komponen otomotif berhasil meningkatkan kontribusi industri terhadap PDB dan menciptakan lapangan kerja. Simulasi menunjukkan bahwa skenario insentif lokalisasi lebih dominan dibandingkan skenario baseline, yang mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025. Dalam proyeksi tersebut, penjualan mobil nasional diperkirakan kembali naik setelah mengalami penurunan pada 2025, dengan target sekitar 1,32 juta unit pada 2030.
Sementara itu, pasar kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) diprediksi menurun dari 98 persen pada 2022 menjadi sekitar 75 persen pada 2030. Sebaliknya, kendaraan elektrifikasi (xEV) menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pada skenario baseline, kontribusi xEV (HEV, PHEV, dan BEV) mencapai 25 persen dari total pasar, sementara skenario insentif lokalisasi mengangkat persentase tersebut hingga 27,4 persen. Perubahan ini didorong oleh penurunan harga mobil hybrid (HEV) sekitar 4–6 persen akibat insentif, yang mempercepat pergeseran preferensi konsumen dari kendaraan konvensional ke jenis listrik.
“Kalau kita membesarkan pajak, itu cenderung high cost ekonominya,” katanya.