Key Strategy: Pendapatan Freeport di 2025 US$8,6 M, Separuhnya Disetor ke Negara
Pendapatan Freeport di Tahun 2025 Capai US$8,6 Miliar
Perusahaan tambang besar PT Freeport Indonesia mengumumkan pendapatan tahun 2025 sebesar US$8,6 miliar atau setara Rp137,6 triliun, dengan kurs Rp16.000 per dolar Amerika. Sebagaian besar dari total tersebut, sekitar 50%, disetorkan ke pemerintah sebagai bentuk pajak, royalti, dan dividen. Presiden Direktur perusahaan, Tony Wenas, menjelaskan bahwa kontribusi negara pada tahun 2025 mencapai US$4,3 miliar atau hampir Rp70 triliun.
“Total pendapatan kami di tahun 2025 adalah 8,6 miliar dolar. Kontribusi negara dari hasil tersebut mencapai 4,3 miliar dolar, bahkan lebih dari target awal karena ada kewajiban pembayaran pajak badan yang diperhitungkan bulanan,” kata Tony dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Senin (13/4/2026).
Walaupun pendapatan tetap tercapai, Tony menyebut bahwa operasional perusahaan sempat terganggu akibat insiden longsoran material basah di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) Tembagapura. Aktivitas produksi terhenti selama sekitar 100 hari hingga 20 Oktober 2025, setelah proses evakuasi korban selesai. Kondisi ini menyebabkan penurunan signifikan dalam output tambang.
Menurut Tony, produksi tembaga turun sekitar 30% dan emas mengalami penurunan lebih dari 50% atau hampir 51%. Namun, kenaikan harga komoditas tembaga dan emas berhasil menutupi tekanan tersebut, sehingga pendapatan perusahaan hanya berkurang sekitar 17%. Dengan demikian, total penjualan tetap mencapai US$8,6 miliar pada tahun 2025.
“Meski produksi tembaga dan emas turun drastis, kenaikan harga pasar membantu memperbaiki laba bersih perusahaan. Jadi, pendapatan kami di tahun 2025 tetap mencapai 8,6 miliar dolar,” tambah Tony.