Special Plan: Wamentan Ingin Industri Gula RI Bangkit dari Kubur, Begini Caranya

Wamentan Ingin Industri Gula RI Bangkit dari Kubur, Begini Caranya

Jakarta, Menteri Pertanian Sudaryono mengungkapkan harapan pemerintah agar industri gula nasional bisa kembali berjaya. Untuk mencapai tujuan ini, ia menyarankan peningkatan rendemen tebu hingga mencapai tingkat seperti di masa kolonial. Dulu, Indonesia pernah menjadi produsen gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba, dengan rendemen yang jauh lebih tinggi dari kondisi sekarang. Saat ini, rendemen tebu hanya berkisar antara 7 hingga 8%, sementara negara tetangga seperti Thailand bisa mencapai 11 hingga 12%.

“Dulu zaman Belanda rendemennya bisa tiga kali lipat dibandingkan yang sekarang. Kenapa sekarang turun naik, kita harus lihat penyebabnya,” ujar Sudaryono saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Menteri Sudaryono menegaskan bahwa rendemen rendah menjadi penyebab utama rendahnya produksi gula nasional. Rendemen menentukan berapa banyak gula yang dihasilkan dari jumlah tebu yang digiling. Jika rendemen rendah, hasil gula yang diperoleh petani akan berkurang meski volume tebu masih besar.

Dalam penjelasannya, ia menyebutkan bahwa rendemen yang rendah menghambat potensi swasembada gula. Hal ini menyebabkan Indonesia masih mengimpor gula rafinasi. Namun, peluang meningkatkan produksi lokal sangat besar, karena ketersediaan lahan dan bahan baku masih memadai.

Untuk mewujudkan peningkatan rendemen, Kementerian Pertanian mendorong penggunaan benih berkualitas tinggi serta program peremajaan tanaman tebu. Sudaryono menekankan bahwa kualitas benih memiliki pengaruh signifikan terhadap produksi, dengan dampak hingga 20 hingga 30%.

“Dengan benih yang baik, hasil produksi tanaman seperti padi, jagung, atau tebu bisa meningkat 20%-30%. Jadi, asal benihnya bagus, hasilnya pasti lebih baik,” tambahnya.

Pemerintah telah mengalokasikan dana besar sebesar Rp9,9 triliun selama tiga tahun untuk meningkatkan kualitas benih. Anggaran tersebut disalurkan bertahap, yaitu Rp2,5 triliun pada tahun lalu, Rp5,5 triliun di tahun ini, dan sisanya di tahun depan.

Di samping peningkatan kualitas benih, pemerintah juga berencana menambah area tanam tebu. Namun, pihaknya memastikan bahwa ekologi tetap dijaga, tanpa penggundulan hutan atau kerusakan lingkungan.

“Kita juga harus cari lahan baru yang sesuai untuk tebu, tapi tidak merusak ekologi. Jadi, lahan yang diperluas harus terencana dan terstandar,” ujarnya.

Sudaryono menyatakan bahwa jika rendemen bisa ditingkatkan ke level seperti masa kolonial, Indonesia bukan hanya bisa mencapai swasembada gula, tetapi juga memiliki peluang menurunkan harga gula di pasar. “Jika rendemen kembali tinggi, kita bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *