Key Strategy: TransJakarta: 1 unit bus EV hemat subsidi BBM Rp302 juta per tahun

TransJakarta: Satu Bus Listrik Bisa Mengurangi Subsidi BBM Rp302 Juta Tahunan

Jakarta – Dalam diskusi bersama Inisiatif Strategis Transportasi (Instran) dan PT Kalista Nusa Armada, TransJakarta mengklaim penggunaan satu unit bus listrik dapat mengurangi subsidi bahan bakar pemerintah hingga Rp302 juta per tahun. Jika dihitung secara menyeluruh, selama 5,5 tahun operasional, penghematan total bisa mencapai Rp3,9 miliar per unit, setara harga satu bus listrik 12 meter saat ini.

Perhitungan Berdasarkan Harga BBM dan Efisiensi

Perbandingan ini didasarkan pada perbedaan harga antara solar subsidi (Rp6.800 per liter) dan BBM komersial (Dexlite, Rp14.500 per liter), serta efisiensi operasional bus listrik dibandingkan bus berbahan bakar minyak (ICE). Gatot Indra Koswara, Spesialis Utama Transformasi TransJakarta, menjelaskan bahwa meskipun biaya awal bus listrik dua kali lipat lebih tinggi dari bus diesel, keuntungan jangka panjang dari penghematan energi dan perawatan bisa menyeimbangkan investasi awal.

“Harga bus listrik memang lebih mahal, tapi biaya energinya empat kali lebih murah dibandingkan ICE, termasuk perawatan yang juga lebih hemat,” kata Gatot dalam Focus Group Discussion (FGD) di Jakarta, Rabu.

TransJakarta memperkirakan, satu unit bus ICE yang menempuh rata-rata 78.475 kilometer per tahun dengan efisiensi 2 kilometer per liter, membutuhkan sekitar 39.238 liter solar per tahun. Dengan selisih harga sekitar Rp7.700 per liter, angka ini menghasilkan potensi penghematan subsidi sebesar Rp302 juta per unit tiap tahun.

Dari sisi operasional, biaya energi bus listrik mencapai Rp800 per kilometer, berdasarkan harga listrik Rp731 per kWh. Sementara itu, bus ICE memerlukan Rp3.400 per kilometer. Selisih biaya ini mengakibatkan penghematan sekitar Rp204 juta per tahun. Di sisi perawatan, bus listrik diperkirakan lebih efisien, dengan biaya sekitar Rp2.600 per kilometer dibandingkan ICE yang mencapai Rp5.400 per kilometer, memberikan tambahan penghematan Rp219,7 juta per unit per tahun.

TransJakarta menegaskan bahwa penghematan dari biaya subsidi, energi, dan perawatan secara bersamaan bisa menghasilkan nilai yang signifikan dalam jangka panjang. Dalam periode 5,5 tahun, akumulasi keuntungan diperkirakan mencapai Rp3,99 miliar, atau hampir sebanding dengan biaya pembelian satu bus listrik 12 meter.

Terlepas dari aspek fiskal, penggunaan bus listrik juga menawarkan keuntungan tambahan seperti pengurangan emisi dan peningkatan kualitas udara di kawasan perkotaan. Gatot menjelaskan bahwa seluruh komponen penghematan ini, jika dikumpulkan, akan memberikan dampak besar dalam pengurangan beban anggaran pemerintah serta kontribusi lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *