Kiat cegah anak laki-laki jadi pelaku pelecehan seksual secara verbal
Kiat Cegah Anak Laki-Laki Jadi Pelaku Pelecehan Seksual Secara Verbal
Jakarta – Dalam wawancara dengan ANTARA, psikolog klinis yang lulus dari Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, mengungkap langkah-langkah penting yang bisa diterapkan oleh orang tua dalam pengasuhan keluarga. Tujuannya adalah untuk mengurangi risiko anak laki-laki menjadi pelaku pelecehan seksual, terutama berupa ucapan yang merendahkan. “Pendekatan khusus dibutuhkan karena norma sosial yang dominan sering mengabaikan peran pria dalam menghormati wanita,” jelasnya.
“Orang tua harus proaktif memperbaiki kesan seperti ‘itu hanya bercanda’ dan menekankan bahwa menghormati orang lain adalah nilai utama,” ucap Kasandra.
Kasandra menekankan bahwa melibatkan laki-laki dalam solusi mencegah kekerasan berbasis gender sangat penting. Dalam mengawasi anak, pendekatan yang efektif tidak hanya berupa pengendalian, tetapi juga melalui komunikasi terbuka. Misalnya, dengan menemani penggunaan gawai, mengupas konten yang dikonsumsi, serta menciptakan ruang aman agar anak nyaman berbagi pengalaman tanpa takut dihakimi.
Pola asuh yang hangat namun tetap tegas, atau disebut authoritative parenting, dinilai lebih mampu membentuk disiplin diri dan rasa tanggung jawab pada anak. “Peran orang tua sangat berpengaruh dalam mencegah anak menjadi pelaku pelecehan seksual verbal,” tambahnya.
Selain itu, nilai penghormatan terhadap orang lain perlu ditanam sejak usia dini. Konsep ini mencakup pemahaman tentang batasan, empati, dan etika berkomunikasi. Kasandra menegaskan bahwa anak belajar melalui proses meniru, sehingga cara orang tua berbicara dan bersikap menjadi faktor utama dalam membentuk perilaku mereka.
Kasandra juga menjelaskan bahwa kekerasan seksual verbal mencakup berbagai bentuk ekspresi yang bersifat seksual dan dilakukan tanpa persetujuan. Contohnya adalah komentar seksual terhadap penampilan, candaan atau lelucon dengan nuansa seksual, ajakan yang tidak diinginkan, serta siulan atau panggilan bernuansa seksual. Tindakan ini bisa membuat korban merasa tidak nyaman, terhina, atau terintimidasi.
Dalam menilai kekerasan seksual verbal, niat pelaku bukan satu-satunya faktor. Lebih dari itu, dampak terhadap korban dan relasi kuasa yang membuat korban sulit menolak juga menjadi pertimbangan utama. Bentuk-bentuk kekerasan ini berada dalam spektrum yang lebih luas, sehingga tindakan yang terkesan ringan tetap perlu diperhatikan.