Latest Update: RI serukan Asia-Pasifik perkuat kerja sama di Konferensi Regional FAO

RI serukan Asia-Pasifik perkuat kerja sama di Konferensi Regional FAO

Jakarta – Dalam sesi ke-38 Konferensi Regional FAO untuk Asia-Pasifik (APRC38) di Brunei Darussalam, Indonesia menekankan pentingnya meningkatkan kerja sama antar negara anggota organisasi pangan dan pertanian PBB. Seruan ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Ali Jamil, saat memberikan keterangan di Jakarta, Jumat.

Usulan transformasi sistem pangan

Ali mengatakan bahwa negara-negara anggota FAO di Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, telah berperan aktif dalam berbagai inisiatif yang mendorong solusi lokal. Ia menyarankan pengembangan wadah transformasi sistem pangan sub-regional Asia Tenggara untuk memperkuat komunikasi, pertukaran ilmu, dan pendanaan, termasuk melalui kerja sama Selatan-Selatan.

Dalam usaha ini, Indonesia juga mengusulkan reformasi struktur serta penguatan manajemen tata kelola agar petani tetap menjadi pusat perubahan sistem pangan dan pertanian. Menurut Ali, sektor pertanian merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia, yang menyumbang sekitar 14 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan mendukung kehidupan lebih dari 40 juta penduduk, sebagian besar petani kecil.

Press Conference dari Brunei Darussalam

Sesi APRC38 berlangsung pada momen kritis, di mana sistem agripangan di Asia-Pasifik menghadapi tekanan yang semakin tinggi dari konflik geopolitik dan dampak perubahan iklim. Pangeran Al Muhtadee Billah, putra mahkota Kesultanan Brunei, menegaskan perlunya kerja sama negara-negara untuk meningkatkan ketahanan pangan.

“Kita bertemu di waktu yang penting. Sistem pangan di seluruh wilayah berada di bawah tekanan yang meningkat; perubahan iklim telah memengaruhi cara kita menanam dan memproduksi pangan, ekosistem alami tertekan, dan rantai pasokan masih rentan,” katanya.

Dalam wawancara, ia menyoroti bahwa konflik di Timur Tengah terus mengganggu perdagangan global dan pasar energi. Ia menekankan kebutuhan membuat ketahanan pangan sebagai fokus utama dalam upaya kolektif negara-negara.

Peran FAO dalam tantangan pangan

Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu, menyoroti beberapa tantangan yang mengancam sektor pangan. Ini termasuk kenaikan harga energi dan pupuk, penurunan pendapatan ekspor pertanian ke Timur Tengah, serta ketidakpastian yang terus-menerus akibat konflik 2026. Hal ini memicu volatilitas di pasar komoditas pertanian dan tekanan inflasi global.

Qu juga menyebutkan bahwa dampak jangka panjang dari perubahan iklim semakin intens, seperti kekeringan, banjir, cuaca ekstrem, serta degradasi lahan dan air. Ia mengingatkan bahwa ketahanan harus dibangun dari dalam, karena bantuan eksternal tidak akan berkelanjutan tanpa komitmen kolektif.

Dalam konteks ini, Asia-Pasifik, yang mencakup lebih dari separuh populasi dan produksi pangan dunia, telah mencapai kemajuan signifikan dalam produktivitas, perdagangan, dan teknologi. Namun, kawasan ini juga menghadapi jumlah penduduk yang mengalami kelaparan lebih besar dibanding wilayah lain. Qu mendesak para peserta untuk terlibat dalam diskusi mengenai pendanaan dan investasi sistem agripangan, yang menjadi pusat beberapa dialog meja bundar di APRC38.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *