Meeting Results: Ekonom: Kunjungan Menkeu ke AS redam kekhawatiran terhadap fiskal RI
Ekonom: Kunjungan Menkeu ke AS Redam Kekhawatiran Pasar Terhadap Fiskal RI
Menurut Yusuf Rendy Manilet dari Center of Reform on Economics (CORE), pertemuan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dengan pihak-pihak di Amerika Serikat (AS) berpotensi meringankan kecemasan pasar mengenai kondisi keuangan Indonesia. “Kunjungan ini memberikan dampak signifikan dalam waktu singkat. Paling tidak, bisa mengurangi ketakutan pasar, terutama jika pesan yang disampaikan cukup jelas,” jelas Yusuf saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.
Tantangan Kebijakan Fiskal
Yusuf menyoroti bahwa keberhasilan upaya ini bergantung pada tindak lanjut dari pemerintah. Kepastian komitmen menjaga disiplin fiskal atau langkah respons terhadap tekanan global perlu diimplementasikan untuk membangun kepercayaan sementara. Jika tujuan jangka panjang ingin dicapai, lanjutan kebijakan harus dibuktikan secara konkret.
“Investor akan memantau hasilnya, bukan hanya narasi yang dibangun dalam pertemuan. Termasuk lembaga pemeringkat seperti Moody’s, S&P, dan Fitch akan menguji konsistensi antara komunikasi dan tindakan nyata,” ujar Yusuf.
Menurut Yusuf, saat ini pemerintah harus fokus pada fleksibilitas ruang fiskal. Jika harga komoditas mulai stabil, penerimaan negara mungkin akan mengalami tekanan. Belanja negara juga dianggap kurang fleksibel, baik untuk program utama maupun kebutuhan menjaga daya beli masyarakat. Dalam situasi ini, strategi harus dirancang untuk mencegah risiko peningkatan defisit APBN.
Pertemuan dengan Pihak Global
Pertemuan Menkeu dengan Bank Dunia, Managing Director IMF Kristalina Georgieva, serta perwakilan lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings menunjukkan dukungan terhadap arah kebijakan fiskal Indonesia. Yusuf menyebutkan bahwa lembaga-lembaga tersebut memberikan apresiasi terhadap strategi yang dijalankan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
“Ini akan menjadi fokus pasar: apakah ada langkah nyata, seperti pengurangan belanja atau peningkatan penerimaan yang realistis, setelah kunjungan tersebut? Bagaimana juga strategi pembiayaan defisitnya?” tanya Yusuf.
Yusuf menekankan bahwa kualitas kebijakan lebih penting daripada angka-angka saja. Jika defisit memang terjadi, pasar ingin melihat apakah perluasan tersebut terukur dan bertujuan mengimbangi siklus ekonomi, atau justru menunjukkan tekanan struktural yang belum teratasi.