Special Plan: Trump Bikin Dunia Pusing, Raksasa Asia Ini Siap Jadi Penyelamat

Trump Bikin Dunia Pusing, Raksasa Asia Ini Siap Jadi Penyelamat

Jakarta, CNBC Indonesia — Jepang resmi melonggarkan batasan ekspor senjata besar untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II. Tindakan ini diambil lantaran kekhawatiran terhadap ketidakpastian komitmen presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan tekanan pada stok persenjata AS akibat konflik di Iran serta Ukraina. Pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi telah menyetujui perubahan kebijakan tersebut minggu ini, dengan harapan memperkuat industri pertahanan dalam negeri.

Aturan baru ini akan diterapkan secara resmi akhir bulan ini, bertujuan menunjang kebutuhan senjata sekutu seperti Polandia dan Filipina. Meski dikenal sebagai negara pasifis, Jepang memiliki industri pertahanan besar dengan anggaran mencapai 60 miliar dolar AS per tahun. Perusahaan-perusahaan besar seperti Toshiba dan Mitsubishi Electric kini memperlihatkan ambisi ekspor yang semakin tinggi.

“Ada beberapa hambatan yang dapat kita atasi dengan melibatkan Jepang di dalamnya,” ujar Mariusz Boguszewski, Wakil Kepala Misi Kedutaan Besar Polandia di Jepang, dikutip Reuters, Rabu (15/4/2026).

Diplomat Eropa menyebut sikap Trump yang tak terduga, seperti ancaman keluar dari NATO, memaksa mereka mengurangi ketergantungan pada satu pemasok utama. Masahiko Arai, Senior Vice President Mitsubishi Electric, menegaskan bahwa penawaran senjata berasal dari berbagai sumber, termasuk Jepang.

PM Sanae Takaichi dalam pidatonya menyatakan bahwa revisi aturan ini adalah langkah untuk memperkuat kerja sama pertahanan kolektif. Di sisi lain, pihak Gedung Putih mengklaim hubungan AS-Jepang justru semakin solid di bawah kepemimpinan Trump dan Takaichi.

“Penawaran datang dari mana saja,” kata Masahiko Arai, Senior Vice President unit pertahanan Mitsubishi Electric.

Konflik dengan China membuat Jepang dianggap sebagai alternatif strategis. Perusahaan seperti Toshiba berencana menambah 500 karyawan dan membangun fasilitas pengujian senjata untuk memenuhi permintaan ekspor. Kenji Kobayashi, Vice President divisi pertahanan Toshiba, menyatakan: “Risiko reputasi tidak lagi seperti dulu. Daripada mengkhawatirkan hal itu, kami fokus pada memenuhi peran kami dan menumbuhkan bisnis.”

Mitsubishi Electric bahkan menargetkan penjualan senjata mencapai 3,8 miliar dolar AS pada 2031. Di sisi lain, Ukraina melihat peluang besar dengan rencana membentuk aliansi perusahaan drone bersama Jepang. Kateryna Yavorska, kepala kamar dagang Kyiv di Tokyo, mengungkapkan: “Kamar dagang Kyiv di Tokyo akan segera meluncurkan kelompok industri baru perusahaan drone Ukraina dan Jepang untuk memacu pengembangan teknologi baru, bertepatan dengan perubahan aturan tersebut.”

“Jepang sejujurnya telah berada dalam kotak penalti karena Perang Dunia II. Namun, mereka pasti akan berayun lebih dekat ke pusat politik global,” pungkas Andrew Koch, pendiri firma penasihat industri pertahanan Nexus Pacific.

Kebijakan Jepang ini diperkirakan akan mengubah dinamika kekuatan dunia. Selama ini AS mendominasi 95% impor senjata Jepang, namun sistem birokrasi yang lambat dan mahal membuat banyak negara mulai mempertimbangkan Tokyo sebagai pemasok utama baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *