Solving Problems: Video: Curhat Emiten Plastik: Perang Bikin Harga Bahan Baku Naik 100%
Video: Pengakuan Emiten Plastik tentang Dampak Perang pada Harga Bahan Baku
Kenaikan harga minyak mentah global dan gangguan pada rantai pasok energi akibat ketegangan di Timur Tengah berdampak signifikan pada sektor petrokimia serta industri turunannya, termasuk manufaktur plastik. Menurut Pujihasana Wijaya, direktur utama PT Berlina Tbk (BRNA), perusahaan yang bergerak di bidang kemasan plastik mengalami tekanan karena kenaikan biaya bahan baku resin. Resin ini diproduksi dari minyak bumi, sehingga naiknya harga bahan dasar langsung memengaruhi operasional BRNA.
Perusahaan Masih Reliabel pada Permintaan FMCG
BRNA tetap mengandalkan permintaan dari industri FMCG (Fast Moving Consumer Goods) yang cenderung defensif selama situasi gejolak perang. Meski ada ketidakpastian, bisnis perusahaan masih bisa bertahan karena ketergantungan pada pasar ini. Namun, kenaikan harga bahan baku plastik kini mencapai 40 hingga 100%, sementara biaya produksi BRNA sekitar 50% terdiri dari bahan baku. Ini berarti kenaikan harga jual produk tak bisa dihindari.
“Kenaikan harga bahan baku plastik mencapai 100% dalam beberapa bulan terakhir. Meski kami masih bisa mempertahankan kinerja, tekanan ini terus menggerogoti margin laba,” ujar Pujihasana Wijaya.
Kebutuhan Dukungan Regulasi dari Pemerintah
Pengusaha kemasan plastik mengharapkan bantuan pemerintah untuk mengatasi ketidakpastian regulasi dan perubahan ekspektasi konsumen. Tren keberlanjutan dan isu lingkungan memaksa produsen beralih ke solusi ramah lingkungan, yang menambah beban biaya. Tanpa langkah konkret, dampak perang berpotensi mengganggu kelangsungan industri.
Untuk memperjelas dampak kenaikan harga bahan baku terhadap produsen kemasan plastik, simak dialog Shafinaz Nachiar dengan Pujihasana Wijaya dalam program Closing Bell, CNBC Indonesia (Rabu, 15 April 2026).