Important Visit: Peringatan Keras IMF: Dunia Makin Gila, Utang Bengkak Demi Perang
Peringatan Keras IMF: Dunia Makin Berisiko, Utang Pemerintah Meningkat Karena Perang
Dalam laporan edisi April 2026, International Monetary Fund (IMF) memperingatkan bahwa peningkatan belanja militer global mencerminkan ketegangan geopolitik yang semakin meningkat. Negara-negara terlibat perang, termasuk konflik terbaru di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran, terus memperbesar anggaran pertahanannya. Hal ini mengakibatkan lonjakan dalam pengeluaran militer yang terjadi di berbagai wilayah.
Anggaran Pertahanan Naik, Tren Berlangsung Luas
Sejak 2018, sebanyak 40% negara di dunia mengalokasikan belanja militer lebih dari 2% dari PDB hingga 2024. Dalam lima tahun terakhir, setengah negara telah meningkatkan anggaran pertahanan. Penjualan senjata oleh 100 perusahaan terbesar dunia juga naik hampir dua kali lipat dalam 20 tahun terakhir.
Tren kenaikan anggaran militer kembali menguat setelah melambat pada awal 2000-an dan pasca-Perang Dingin. Meski dalam periode tersebut tingkat kenaikan lebih rendah, kini banyak negara memperbesar pengeluaran pertahanan. Data IMF menunjukkan bahwa lonjakan besar dalam belanja militer terjadi sebanyak 215 kali sejak 1946, dengan rata-rata kenaikan sekitar 2,7 poin persentase PDB dan durasi lebih dari 2,5 tahun.
Sumber Pembiayaan: Utang dan Defisit Anggaran
Sebagian besar kenaikan belanja militer tidak didukung oleh peningkatan penerimaan negara yang signifikan. Sebaliknya, sekitar dua pertiga dari peningkatan ini berasal dari defisit anggaran yang lebih besar. Dalam tiga tahun, defisit primer rata-rata meningkat 1,1 poin persentase PDB, sementara penerimaan negara hanya naik 0,2 poin persentase.
Sekitar 39% lonjakan belanja pertahanan didanai melalui utang pemerintah, 35% melalui peningkatan pendapatan, dan 26% dari realokasi anggaran dari sektor lain. Dalam tiga tahun, rata-rata defisit fiskal naik 2,6 poin persentase PDB, sementara utang pemerintah meningkat hingga 6,6 poin persentase.
Ekonomi Jangka Pendek Mendapat Dorong, Tapi Risiko Tetap Ada
Kenaikan belanja militer bisa memberi dorongan pada perekonomian dalam jangka pendek. Dalam situasi non-perang, peningkatan anggaran pertahanan seringkali mendorong output riil negara lebih dari 3% dibandingkan tanpa lonjakan. Namun, efek jangka panjang bisa membuat ruang fiskal lebih sempit, terutama jika pendanaan bergantung pada utang dan defisit.
Ini menggarisbawahi bahwa dunia kini semakin gila dalam menghabiskan dana untuk kepentingan militer, yang berdampak signifikan pada struktur keuangan negara.