New Policy: Harga Barang-Barang Beterbangan, Bos Ritel Modern Minta Ini ke Pabrik
Harga Barang-Barang Beterbangan, Bos Ritel Modern Minta Ini ke Pabrik
Jakarta, para pengusaha ritel lokal mulai merancang strategi untuk menghadapi tekanan harga yang meningkat di tingkat produsen. Salah satu cara yang diambil adalah menaikkan harga secara bertahap, agar dampaknya pada konsumen tidak terasa terlalu mendadak. Menurut Budihardjo Iduansjah, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), kenaikan harga saat ini sulit dihindari. Namun, ia menjelaskan bahwa pelaku ritel sedang berusaha mencari jalan agar penyesuaian tarif bisa dilakukan secara perlahan.
“Kenaikan harga ini memang tak bisa dihindari. Kalau ada pabrik yang memberikan harga khusus untuk orderan pertama, kami bisa memanfaatkan kesempatan itu agar konsumen tidak terkejut,” kata Budihardjo kepada CNBC Indonesia, Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, tekanan harga berasal dari hulu, mulai dari bahan baku hingga hasil produksi pabrik. Dampaknya pun menyebar ke berbagai jenis produk, tidak hanya tekstil. “Kenaikan bahan baku sudah terjadi, produsen juga menaikkan tarif. Kami menerima kenaikan harga di sektor elektronik, plastik, rumah tangga, dan alat listrik. Semua ada peningkatan karena membutuhkan plastik,” terangnya.
Posisi pelaku ritel saat ini adalah menyesuaikan dan bernegosiasi dengan produsen. Tujuannya adalah memberi waktu sebelum kenaikan harga sepenuhnya terlempar ke konsumen. “Kami melakukan negosiasi, tetapi mengerti bahwa bahan baku akan meningkatkan biaya barang. Jadi, kami minta ada harga khusus untuk orderan awal agar konsumen tidak terkejut,” tambahnya.
Dalam konteks ini, perlahan menyesuaikan harga dianggap penting untuk menjaga daya beli masyarakat. Strategi tersebut diharapkan bisa mengurangi guncangan pasar yang mungkin terjadi secara mendadak. Sebelumnya, Redma Gita Wirawasta, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), mengungkapkan tekanan harga pada industri tekstil dan produk tekstil (TPT) akibat konflik Timur Tengah yang mengerek harga minyak dunia hingga sekitar US$110 per barel.
“Harga paraxylene, bahan baku utama polyester, sekarang mencapai US$1.300 per ton atau naik 40% dari dua minggu lalu. Kenaikan ini belum sepenuhnya mencapai sektor hilir,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Redma menjelaskan bahwa efek berantai dari kenaikan bahan baku akan berdampak bertahap hingga tiga minggu ke depan. Dalam seminggu mendatang, kenaikan harga akan menyebar ke produsen kain, sementara dua minggu berikutnya mencapai sektor pakaian jadi. “Kemudian, harga akan terus naik hingga mencapai sektor ritel. Diperkirakan kenaikan di ritel akan mencapai sekitar 10%,” tuturnya.