Latest Program: Ini Dia, Strategi Korporasi Atasi Masalah Sampah di Indonesia
Ini Dia, Strategi Korporasi Atasi Masalah Sampah di Indonesia
Indonesia terus menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Menurut Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nuroq, jumlah sampah nasional mencapai 140.000 ton per hari. Jika tidak dikelola secara baik, kondisi ini bisa memicu kerusakan lingkungan hingga risiko kesehatan bagi masyarakat. Mengatasi masalah ini memerlukan pendekatan komprehensif dengan kerja sama dari berbagai sektor, termasuk pemerintah, industri, komunitas, dan individu.
Komitmen Unilever Indonesia
Salah satu perusahaan yang aktif mengambil peran dalam permasalahan sampah adalah Unilever Indonesia (UNVR). Dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Nurdiana Darus, Director of Communications, Corporate Affairs & Sustainability UNVR, menjelaskan bahwa perusahaan telah menekankan upaya keberlanjutan selama lebih dari dua dekade, khususnya dalam pengurangan sampah plastik.
“Produk Unilever membutuhkan kemasan plastik yang kuat untuk distribusi, sehingga penggunaannya tetap diperlukan. Namun, kami sadar plastik yang tidak dikelola bisa merugikan lingkungan,” tutur Nurdiana.
Inisiatif Pengelolaan Sampah
UNVR mengambil langkah konkrit untuk mengatasi sampah plastik dari hulu hingga hilir. Di tahap awal, perusahaan fokus pada pengembangan kemasan yang lebih ramah lingkungan. Di tahap akhir, mereka mengadakan program seperti Bank Sampah, Refill Station, dan Reverse Vending Machine (RVM) untuk memfasilitasi pengumpulan dan daur ulang sampah.
Sejak 2025, UNVR telah menetapkan lebih dari 5.000 Bank Sampah di 50 kota/kabupaten yang tersebar di 11 provinsi. Di sebagian titik, Bank Sampah ini dilengkapi dengan gerai U-Refill, yang menyediakan produk Unilever dengan kemasan ramah lingkungan. Jumlah gerai tersebut mencapai 2.900 di Jabodetabek dan Surabaya.
Pengaruh Inisiatif Terhadap Lingkungan
Program RVM mengajak konsumen untuk menyerahkan botol plastik bekas dan menukarkannya dengan uang. “Kami juga berupaya mendorong perubahan perilaku melalui edukasi dan kolaborasi dengan pihak terkait,” tambah Nurdiana.
Dari 2025, UNVR berhasil mengumpulkan dan memproses lebih dari 80.000 ton sampah plastik. Jumlah ini melebihi plastik yang digunakan untuk kemasan produk. Nurdiana menegaskan bahwa kolaborasi berkelanjutan tetap menjadi prioritas perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan.