Topics Covered: Pasar Uang RI Penuh Gejolak, LPEM Sarankan BI Hati-Hati
Pasar Uang RI Penuh Gejolak, LPEM Sarankan BI Hati-Hati
Jakarta, CNBC Indonesia – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia mengungkapkan rekomendasi untuk Bank Indonesia agar tetap menjaga suku bunga pada tingkat 4,75%. Kondisi inflasi yang melebihi target dan tekanan pada nilai tukar rupiah akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) menjadi faktor utama dalam pertimbangan ini.
Analisis LPEM FEB UI
“LPEM FEB UI merekomendasikan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga di 4,75%. Kondisi inflasi di luar ambang target tetapi masih menghadapi tekanan yang kompleks,” demikian disampaikan dalam artikel resmi LPEM FEB UI, Jumat (17/4/2026). Penurunan efek diskon tarif listrik berhasil memperlambat inflasi, tetapi risiko kenaikan tetap berpotensi muncul, terutama karena lonjakan permintaan saat Ramadan dan Idul Fitri, serta kenaikan harga energi global.”
“Konflik antara AS dan Iran juga memberi tekanan pada rupiah. Pelemahan mata uang ini berasal dari kombinasi faktor global dan kerentanan sektor dalam negeri,” tambah LPEM FEB UI.
Risiko Turunnya Suku Bunga
LPEM FEB UI menyoroti tiga risiko utama jika Bank Indonesia memutuskan untuk menurunkan suku bunga. Pertama, mempersempit selisih bunga dengan mata uang asing. Kedua, menambah tekanan pada nilai tukar rupiah. Ketiga, mendorong inflasi melalui kenaikan harga impor dan energi.
Pasangan dengan penyebab gejolak di pasar keuangan Indonesia terjadi dalam sebulan terakhir. LPEM FEB UI mencatat berbagai perubahan yang memengaruhi keputusan suku bunga, termasuk sinyal negatif dari MSCI, yang menjadi referensi utama investor global, serta penurunan prospek dari Moody’s.
“Ketidakpastian ekonomi semakin menguatkan keraguan pasar,” ujar LPEM FEB UI.
Respon Pemerintah dan Fitch Ratings
Pemerintah berupaya memperbaiki tata kelola dengan mengganti Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK) dan menerbitkan aturan transparansi free float saham. Meski upaya ini mulai terlihat, kepercayaan investor belum pulih sepenuhnya.
Tekanan terus meningkat setelah Fitch Ratings menurunkan prospek Indonesia menjadi negatif pada 4 Maret 2026. Alasannya adalah ketidakpastian kebijakan dan tekanan fiskal dalam kondisi global yang tidak stabil. Sehari setelahnya, harga minyak melonjak hingga US$99 per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel. “Ini memicu kekhawatiran mengenai kemampuan pemerintah mempertahankan defisit di bawah 3%,” lanjut LPEM FEB UI.
Di sisi lain, pemerintah memberikan respons dengan mengumumkan tiga skenario defisit, mulai dari 3,18% pada skenario optimis hingga 4,06% pada skenario terburuk, tergantung pada dinamika harga minyak dan nilai tukar.
Konflik Pernyataan dan Dampak Pasar
Beberapa hari setelahnya, Presiden Prabowo menyatakan pendirian berbeda dalam rapat kabinet, menekankan penghematan dan target keseimbangan anggaran dalam 2-3 tahun. “Perbedaan sikap ini justru memberikan sinyal negatif, menunjukkan pergeseran dari prinsip kehati-hatian fiskal yang telah dibangun sejak era reformasi,” ujar LPEM FEB UI.
Arus dana keluar dari pasar keuangan terus meningkat. Dari 28 Februari 2026 hingga kini, total dana yang terlepas mencapai US$0,77 miliar. Sementara itu, pasar saham mengalami aliran sedikit US$0,03% akibat pergeseran sektor energi.
Kondisi Eksternal dan Rupiah
Di sisi lain, yield SBN tenor 1 tahun meningkat 83 basis poin menjadi 5,65%, sementara tenor 10 tahun naik 36 basis poin menjadi 3 basis poin. “Premi risiko di pasar meningkat secara signifikan, menandakan adanya ketidakpastian ekonomi yang lebih besar,” tutup LPEM FEB UI.
Nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan. Rupiah menyentuh titik terendah, turun sekitar 3,64% secara tahunan (yoy). Cadangan devisa pada Februari 2026 mencatatkan penurunan US$2,7 miliar, dari US$154,6 miliar menjadi US$151,9 miliar. “Ini merupakan penurunan bulanan terbesar sejak April 2025, mencerminkan upaya stabilisasi rupiah dan kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah,” sambung LPEM FEB UI.