Key Strategy: Iran Buka Selat Hormuz, Begini Kondisi Sebenarnya di Lokasi
Iran Buka Selat Hormuz, Begini Kondisi Sebenarnya di Lokasi
Dalam tengah pengumuman kembali dibukanya jalur energi kritis dunia, aktivitas kapal dagang justru menggambarkan situasi yang berbeda. Banyak dari mereka menunjukkan sikap waspada, terhenti, atau bahkan berbalik arah sebelum mencapai tujuan. Dilaporkan oleh Reuters, sejumlah kapal gagal keluar dari wilayah Teluk pada Jumat (17/4/2026) malam, berdasarkan data pelacakan pelayaran, meskipun Iran telah mengatakan bahwa Selat Hormuz kembali dibuka selama gencatan senjata 10 hari di Lebanon.
Pembukaan dan Perubahan Perjalanan
Data dari MarineTraffic menunjukkan sekitar 20 kapal sempat bergerak menuju Selat Hormuz pada Jumat malam. Namun, sebagian besar menghentikan perjalanan setelah beberapa waktu, bahkan ada yang berbalik arah. Fenomena ini mencerminkan kelompok kapal terbesar yang mencoba melewati jalur tersebut sejak Iran menutupnya sebagai respons terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai 28 Februari.
Ketidakjelasan masih menghiasi alasan pasti mengapa kapal-kapal itu menghentikan pelayaran. Di antara armada yang terlibat, tiga kapal kontainer CMA CGM memilih diam. Pukul 21.00 waktu setempat, mayoritas kapal dalam kelompok tersebut telah berbalik. Meski demikian, data menunjukkan bahwa beberapa kapal baru, terutama tanker, masih berusaha mendekati selat.
“Saat ini kami sedang memverifikasi pengumuman terbaru terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, dalam hal kepatuhanannya terhadap kebebasan navigasi untuk semua kapal dagang dan jalur pelayaran yang aman,” y dicatat.
Ketidakpastian di Balik Pembukaan
Perusahaan pelayaran bersikap hati-hati menyambut pembukaan selat. Mereka menilai diperlukan kejelasan tambahan sebelum kembali beroperasi normal, terutama terkait risiko keamanan seperti kemungkinan ranjau laut. Seorang pejabat Iran menyatakan bahwa semua kapal komersial, termasuk yang berbendera Amerika Serikat, diizinkan melintas. Namun, rencana pelayaran harus disetujui oleh Garda Revolusi Iran (IRGC), dan kapal hanya boleh melewati jalur yang dianggap aman.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional, Arsenio Dominguez, mengungkapkan bahwa pihaknya masih memverifikasi pengumuman pembukaan selat. “Kami mengevaluasi apakah keputusan ini memenuhi kebebasan navigasi bagi kapal dagang serta keamanan jalur,” katanya.
Sinyal Positif Tapi Ragu
Apalagi ada sinyal optimis, pelaku industri tetap mengkhawatirkan ketidakstabilan. Asosiasi pemilik kapal Norwegia menyebutkan sejumlah isu utama belum terselesaikan, seperti keberadaan ranjau, syarat dari Iran, dan penerapan aturan di lapangan. CEO asosiasi tersebut, Knut Arild Hareide, mengatakan, “Jika ini langkah menuju pembukaan, maka merupakan perkembangan yang baik.”
Kelompok pelayaran internasional BIMCO memperingatkan anggotanya untuk tidak terburu-buru melewati jalur. Mereka mengingatkan adanya risiko ranjau yang belum jelas. Serupa juga peringatan dari Angkatan Laut AS yang menegaskan potensi ancaman serius di wilayah tersebut. Perusahaan tanker Norwegia Frontline belum memberikan komentar, sementara Hapag-Lloyd mengakui banyak pertanyaan masih belum terjawab.
Analisis dari Kpler, Matt Wright, menyoroti ketidakpastian mengenai jalur aman untuk keluar dari Teluk. Ia mengatakan, rute baru yang diberlakukan Teheran melalui perairan teritorial dekat Pulau Larak tetap menimbulkan tantangan navigasi, bahkan tanpa tarif tambahan. Pertanyaan juga muncul terkait kepatuhan dan kebijakan asuransi kapal.
Ketidakstabilan ini masih menghiasi selat yang menjadi pintu masuk vital bagi perdagangan minyak global. Meski Iran menyatakan jalur kembali terbuka, kapal tetap menghadapi risiko yang belum sepenuhnya diatasi, memperlihatkan ketegangan yang berlanjut di balik pengumuman tersebut.