Special Plan: Harga Emas Kembali Mengamuk, Pesta Pora Babak Baru Dimulai
Harga Emas Melonjak, Tren Penguatan Memulai Babak Baru
Pasaran emas kembali mengalami kenaikan signifikan setelah Selat Hormuz dibuka kembali dan dimulainya gencatan senjata antara Israel serta Lebanon. Pelemahan dolar Amerika Serikat yang terjadi bersamaan dengan situasi geopolitik di Timur Tengah, berkontribusi pada peningkatan harga logam mulia ini.
Kenaikan Harga dan Faktor Pendukung
Menurut data Refinitiv, harga emas ditutup pada level US$ 4828,3 per troy ons, naik 0,85% pada hari Jumat (17/4/2026). Ini menjadi harga tertinggi dalam empat hari terakhir. Penguatan tersebut memutus tren penurunan dua hari beruntun sebelumnya, dengan kenaikan hingga 1,7% dalam seminggu dan penguatan berkelanjutan selama empat minggu.
Perkembangan Diplomatik dan Posisi AS
Iran mengumumkan bahwa Selat Hormuz kembali dibuka dan akan tetap terbuka selama gencatan senjata Israel-Lebanon yang berlangsung 10 hari. Di Truth Social, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Israel dilarang mengebom Beirut. Media internasional melaporkan bahwa AS akan bertemu Iran akhir pekan ini, bertujuan mencapai kesepakatan akhir untuk mengakhiri konflik.
“Israel dilarang mengebom Beirut,” tulis Trump dalam unggahan Truth Social.
Analisis Ekonomi dan Pemangkasan Suku Bunga
Aktivitas pasar mulai optimis dengan kemungkinan The Federal Reserve memangkas suku bunga secepatnya di tahun 2026. Berdasarkan alat pantau CME Group, mayoritas investor memperkirakan kebijakan tersebut akan dilakukan pada Desember. Analis Commerzbank menyebutkan harapan berakhirnya perang mengurangi kekhawatiran tentang risiko inflasi, sehingga memengaruhi kebijakan moneter dan biaya peluang memegang emas.
Kekuatan Dolar dan Proses Konversi
Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama, turun ke 98,098. Karena emas dibeli dalam dolar, pelemahan dolar membuat logam mulia lebih terjangkau bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Fundamental Emas yang Kuat
Permintaan global terhadap emas tetap stabil, didukung oleh pembelian dari bank sentral, investor Tiongkok, serta India. Selain itu, risiko pelemahan pasar saham global juga bisa mendorong diversifikasi ke emas sebagai aset yang lebih aman.