Latest Update: Harga Minyak Ambruk 10%, Rekor Terendah Sebulan Usai Hormuz Dibuka
Harga Minyak Ambruk 10%, Rekor Terendah Sebulan Usai Hormuz Dibuka
Jakarta, harga minyak mengalami penurunan tajam setelah Iran mengumumkan pembukaan Selat Hormuz, terkait pengumuman gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Dikutip dari Refinitiv, harga minyak Brent pada perdagangan Jumat (17/4/2026) ditutup di level US$90,38 per barel, turun 9,07%. Penurunan ini mengakhiri kenaikan harga 4,9% yang terjadi dalam dua hari berturut-turut sebelumnya. Harga penutupan hari ini menjadi yang terendah sejak 10 Maret 2026, lebih dari sebulan terakhir.
Sementara itu, harga minyak WTI mencatatkan penurunan lebih dalam, sebesar 11,5%, ke level US$83,85 per barel. Penutupan harga tersebut juga mencapai titik terendah sejak 10 Maret 2026. Dalam satu minggu terakhir, harga WTI turun 13,2%, sementara Brent mengalami penurunan 5,1%. Pelemahan ini berlangsung sejak tiga minggu terakhir.
Harga minyak sempat mencapai puncak pada 31 Maret 2026, yakni US$199,24 per barel, setelah perang meletus pada 28 Februari 2026. Artinya, harga Brent pada Jumat ini telah merosot 32% dari level tertinggi tersebut. Iran menyatakan Selat Hormuz kini dibuka untuk kapal komersial selama masa gencatan senjata dengan Israel. Namun, kebingungan muncul terkait apakah jalur laut benar-benar terbuka tanpa syarat.
“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur pelayaran bagi seluruh kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka selama sisa masa gencatan senjata,” tulis Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi melalui media sosial, seperti dilansir Reuters.
Araghchi menambahkan bahwa kapal wajib melintasi “rute terkoordinasi” yang ditentukan otoritas maritim Iran. Masih belum jelas apakah Iran akan mengenakan biaya tol bagi kapal yang melewati selat tersebut. Meski Presiden Donald Trump menuntut pembukaan penuh Selat Hormuz, arus kapal tetap nyaris berhenti. Iran memang menyatakan jalur kembali terbuka, tetapi hanya kapal yang dianggap aman yang diperbolehkan lewat.
Perusahaan pelayaran masih menunggu kejelasan sebelum mengembalikan operasi normal. Kebijakan ini mengubah dinamika pasar global, yang sebelumnya terangsang oleh ketegangan di Selat Hormuz.