Latest Program: Ini Alasan UMKM di Indonesia Tahan Banting
UMKM Jadi Pilar Ekonomi Indonesia Meski Diuji Krisis
Segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap menjadi fondasi utama perekonomian Indonesia. Kontribusi mereka melebihi 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, sementara sekitar 97% tenaga kerja di Indonesia bekerja di sektor ini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah UMKM mencapai 65,5 juta unit. Fakta ini menegaskan kemampuan segmen usaha ini untuk bertahan dalam berbagai situasi ekonomi yang sulit.
Krisis Global Tidak Membuat UMKM Menyerah
Indonesia telah menghadapi beberapa krisis ekonomi global. Krisis finansial Asia 1997-1998, misalnya, merambat cepat ke negara-negara lain di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Penyebabnya melibatkan utang luar negeri yang tinggi, kebijakan ekonomi yang kurang stabil, serta spekulasi mata uang. Di masa itu, banyak perusahaan besar, termasuk di sektor perbankan, mengalami kebangkrutan. Namun UMKM mampu bertahan dan menjadi penggerak utama pemulihan ekonomi.
Krisis serupa juga terjadi pada 2008, akibat krisis subprime mortgage di Amerika Serikat. Efeknya, pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat dari 6,1% pada 2008 menjadi 4,5% pada 2009, yang merupakan angka terendah sejak 2001. Meski demikian, UMKM tetap stabil dan menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. BPS mencatatkan perubahan jumlah UMKM sepanjang periode krisis sebagai berikut:
- 1998: 36.813.578
- 1999: 37.911.723
- 2000: 39.748.036
- 2001: 39.964.080
- 2002: 41.944.494
- 2003: 43.460.242
- 2004: 44.777.387
- 2005: 47.017.062
- 2006: 49.021.803
- 2007: 50.145.800
- 2008: 51.409.612
- 2009: 52.764.603
- 2010: 53.823.732
Kemampuan Adaptasi Selama Pandemi
Di tengah tantangan besar selama pandemi Covid-19, UMKM Indonesia masih mampu bertahan. Jumlah unit usaha mencapai 64 juta pada 2020, lalu naik sedikit menjadi 64,2 juta pada 2021. Keberlanjutan ini terjadi karena pelaku usaha bisa menyesuaikan model bisnis mereka, termasuk menerapkan digitalisasi untuk menjual produk secara online meski aktivitas publik terbatasi.
“UMKM disebut tahan banting dan tahan krisis karena hambatan masuknya rendah, sehingga selalu ada usaha baru yang muncul bahkan di tengah situasi sulit,” ujar Piter Abdullah, Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies, saat diwawancara CNBC Indonesia pada Jumat (17/4/2026).
Secara individu, UMKM memang rentan terhadap kegagalan. Namun, Piter menjelaskan bahwa munculnya UMKM baru setiap saat menggantikan yang bangkrut. “Akibatnya, secara agregat UMKM seperti tidak terganggu. Ini adalah alasan mengapa mereka dianggap tahan terhadap krisis,” tegas dia.
Saat ini, meski UMKM menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan isu geopolitik, potensi pertumbuhan mereka tetap besar. Berdasarkan Indeks Bisnis UMKM pada Kuartal III-2025, aktivitas bisnis masih berada di fase ekspansi dengan nilai indeks 101,9. Data ini didukung oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), yang mengalokasikan 80% dari total kreditnya untuk sektor UMKM. Hingga akhir 2025, kredit BRI mencapai Rp1.521,49 triliun.