Latest Program: China sambut baik gencatan senjata Lebanon-Israel
China Apresiasi Gencatan Senjata Lebanon-Israel
Dalam upaya mengurangi ketegangan di wilayah Timur Tengah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa pihak Lebanon dan Israel telah sepakat memulai gencatan senjata selama sepuluh hari. Kesepakatan ini diumumkan pada Kamis (16/4) pukul 21:00 GMT atau Jumat (17/4) pukul 04.00 WIB, setelah pembicaraan yang dimediasi AS berlangsung di Washington DC. Trump juga mengatakan akan mengundang kedua pemimpin untuk mengunjungi Washington dan melakukan diskusi lebih lanjut.
“Situasi di Timur Tengah telah menciptakan krisis pasokan bahan bakar global, karena perang yang seharusnya tidak terjadi,” tambah Guo Jiakun.
Pemerintah Tiongkok, melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun, menyambut baik upaya Lebanon dan Israel mengakhiri konflik. “China mengapresiasi semua langkah yang bermanfaat untuk menyelesaikan pertikaian. Kami berharap semua pihak mempertahankan kondisi gencatan senjata dan melanjutkan perundingan untuk menyelesaikan masalah secara politik,” ujarnya dalam konferensi pers di Beijing, Jumat (17/4).
Meski begitu, Guo Jiakun menyatakan bahwa Tiongkok belum mengirimkan bantuan ke negara-negara yang menghadapi krisis energi akibat gangguan pasokan bahan bakar. “Prioritas utama saat ini adalah mencegah kembali perang dan menghindari kekacauan yang bisa merusak stabilitas pasokan energi global,” katanya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan bahwa jalur perdagangan dan pelayaran di Selat Hormuz akan dibuka sepenuhnya selama masa gencatan senjata. “Karena gencatan senjata Lebanon, seluruh lalu lintas kapal dagang di Selat Hormuz dinyatakan bebas hambatan hingga waktu yang tersisa,” tulis Araghchi melalui media sosial X. Menurutnya, pembukaan jalur ini telah disepakati bersama otoritas pelabuhan Iran.
“Iran baru saja mengumumkan bahwa Selat Hormuz terbuka sepenuhnya. Terima kasih!”
Trump, dalam komunikasinya di platform Truth Social, menyebut Selat Hormuz sebagai “Selat Iran” dan mengapresiasi keputusan Teheran. Namun, beberapa jam kemudian, ia menyatakan bahwa negara-negara akan terus melanjutkan pemblokiran terhadap pelabuhan Iran hingga kesepakatan final tercapai.
Setelah serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, kedua negara sempat melakukan perundingan di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4). Kesepakatan awal yang dicapai Trump mengenai gencatan senjata dua minggu sempat diumumkan, tetapi pada Minggu pagi (12/4), Wakil Presiden AS J. D. Vance menyatakan bahwa negosiasi gagal dan delegasi kembali tanpa hasil.
Kegagalan perundingan pertama memicu Trump untuk menempatkan Angkatan Laut AS untuk memblokir Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis yang menyumbang sekitar 20 persen dari pasokan minyak, produk minyak, serta gas alam cair di dunia. Sementara itu, Axios melalui RIA Novosti menyebutkan bahwa babak kedua negosiasi antara AS dan Iran akan digelar di Islamabad, Pakistan, pada Minggu (19/4).