Visit Agenda: Musim Kemarau 2026 di RI Datang Lebih Cepat, BMKG Ungkap Jadwalnya
Musim Kemarau 2026 di RI Datang Lebih Cepat, BMKG Ungkap Jadwalnya
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap jadwal musim kemarau tahun ini, menunjukkan bahwa periode kering di Indonesia mungkin dimulai lebih awal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Data yang diterbitkan oleh BMKG menyebutkan bahwa 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3% wilayah negara telah memasuki fase kering sejak April 2026.
Penyebab Percepatan Musim Kemarau
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa faktor utama yang memengaruhi keterlambatan La Nina adalah akhir dari fenomena tersebut pada Februari 2026. Setelahnya, kondisi iklim global berubah menjadi fase netral, dengan indeks ENSO mencapai angka -0,28. Menurut Faisal, fase ini diperkirakan bertahan hingga Juni 2026.
“Pemantauan anomali iklim di Samudra Pasifik menunjukkan indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 atau fase netral dan diprediksi bertahan hingga Juni 2026,” kata Faisal dalam keterangan resmi BMKG pada awal Maret 2026.
BMKG juga memperkirakan kemungkinan munculnya El Nino yang lemah hingga moderat meningkat di semester kedua tahun ini, dengan probabilitas mencapai 50-60%. Fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) diperkirakan tetap netral sepanjang 2026.
Jadwal Kedatangan Musim Kemarau
Prediksi BMKG menunjukkan bahwa jumlah ZOM yang mengalami awal kemarau akan terus bertambah. Pada Mei 2026, 184 ZOM atau 26,3% wilayah akan memasuki fase kering, sementara pada Juni 2026, 163 ZOM atau 23,3% wilayah mengalami kondisi serupa.
Secara keseluruhan, 325 ZOM atau 46,5% wilayah Indonesia diperkirakan mengalami awal musim kemarau lebih dini dari normal. Wilayah yang mempercepat siklus kering mencakup sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Selatan dan Timur, Sulawesi, Maluku hingga Papua.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan bahwa gelombang kering akan meluas secara bertahap. “Sebanyak 184 ZOM atau 26,3% wilayah akan memasuki musim kemarau pada Mei, dan 163 ZOM atau 23,3% pada Juni 2026,” jelasnya.
Puncak Musim Kemarau dan Dampaknya
Musim kemarau tahun ini diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus 2026, dengan 429 ZOM atau 61,4% wilayah Indonesia terkena dampak terparah. Sebagian wilayah lainnya mungkin mengalami puncak kering lebih dini, pada Juli, sementara sebagian lagi pada September.
“Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di 57,2% wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya,” tambah Faisal.
BMKG memproyeksikan bahwa 451 ZOM atau 64,5% wilayah Indonesia akan mengalami kemarau dengan curah hujan lebih rendah dari rata-rata. Hal ini memicu peringatan agar pemerintah daerah dan masyarakat segera melakukan antisipasi khusus di sektor pangan, sumber daya air, dan pertanian. Siklus panen yang lebih singkat menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko ketidakstabilan pasokan.