Key Issue: Tengah Booming, Dracin Justru Punya Banyak “Musuh” Baru di China

Tengah Booming, Dracin Justru Punya Banyak “Musuh” Baru di China

Industri hiburan Tiongkok sedang mengalami perubahan besar karena munculnya micro-drama yang didorong oleh AI.

Format Baru yang Mengguncang Industri

Micro-drama, atau yang dikenal sebagai dracin (drama Cina), merupakan karya pendek yang menggabungkan gaya serial TV dengan pengalaman tontonan instan seperti media sosial. Setiap episode biasanya berlangsung antara 1 hingga 5 menit, dengan jumlah episode mencapai 30 hingga 100 per serial. Cerita dibuat secara cepat, mengandalkan konflik, cliffhanger, dan twist untuk memastikan penonton tetap tertarik mengikuti episode berikutnya.

Salah satu contoh populer adalah serial animasi “Orange Cat Taoist Priest: Fighting the Zombie King”, yang menampilkan kucing tabby berubah menjadi pemburu zombie dalam durasi dua menit. Meskipun terkesan spesifik, format ini justru menyebar luas dan menarik ratusan ribu penonton.

Perubahan Pola Konsumsi Hiburan

Menurut laporan e-Conomy SEA 2025 oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, unduhan aplikasi dracin di Asia Tenggara meningkat tajam selama paruh pertama 2025. Kontribusi aplikasi drama pendek terhadap total unduhan video-on-demand (VOD) naik 56% dibandingkan 31% pada semester pertama 2024. Pertumbuhan penonton aplikasi ini mencapai 120% secara tahunan, sementara pangsa pengguna aktif melonjak 200% YoY.

Berbanding terbalik dengan penurunan 15% penonton drama panjang, platform micro-drama seperti Red Fruit (yang dimiliki ByteDance) mencatat peningkatan waktu tonton hingga dua kali lipat. Efisiensi biaya menjadi kunci utama di balik keberhasilan ini. Teknologi AI membantu menekan biaya produksi hingga 90%, membuat produksi live-action yang sebelumnya hemat kini kalah bersaing. Di beberapa wilayah, produksi drama live-action melorot hingga 80%, sementara gaji aktor juga dipangkas setengah.

Tantangan Regulasi dan Kompetisi

Di tengah popularitasnya, micro-drama AI mulai menghadapi hambatan dari pemerintah. Sejak 1 April, regulator mewajibkan serial animasi tanpa izin untuk ditarik dari platform digital. Konten baru juga harus melalui persetujuan sebelum rilis, sebagai tanda kebijakan ketat terhadap pertumbuhan konten berbasis AI.

Sementara itu, pasar yang ramai menyebabkan persaingan semakin ketat. Produksi micro-drama masif membuat banyak karya sulit menarik audiens cukup untuk menghasilkan keuntungan. Format singkat juga membatasi kemungkinan pembentukan ikatan emosional antara penonton dan karakter, mengurangi loyalitas penikmat hiburan.

Pencarian Keseimbangan dalam Industri

Menghadapi tantangan ini, perusahaan teknologi besar seperti Alibaba mencoba menemukan titik tengah. Mereka merilis serial animasi panjang “The Demon Hunter” yang memiliki lebih dari 10 juta pengikut, menunjukkan bahwa drama berdurasi lebih lama masih punya peluang bertahan dalam persaingan.

Kontribusi industri micro-drama di Tiongkok diproyeksikan hampir dua kali lipat pada 2025, mencapai 90 miliar yuan (US$12,7 miliar), melebihi pendapatan tiket bioskop. Selama delapan bulan pertama tahun ini, studio lokal menghasilkan 40.000 judul dracin, dengan satu serial biasanya terdiri dari 90 episode. Fenomena ini hanya salah satu dari ledakan kreativitas yang sedang berlangsung, seperti film animasi “Ne Zha 2” dan video game “Black Myth: Wukong” yang sukses secara global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *