38 Ribu Lebih Perempuan-Anak Terbunuh di Gaza karena Serangan Israel

38 Ribu Lebih Perempuan-Anak Terbunuh di Gaza karena Serangan Israel

Dalam konflik di wilayah Gaza, Palestina, sejak Oktober 2023 hingga akhir 2025, lebih dari 38.000 perempuan dan anak perempuan tewas akibat serangan militer Israel. Angka ini dirilis oleh lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk urusan perempuan, UN Women, pada Jumat (17/4). Jumlah kematian tersebut mencakup lebih dari separuh dari total 71.000 korban yang tercatat oleh kementerian kesehatan setempat.

“Dari Oktober 2023 hingga Desember 2025, jumlah korban tewas yang mencakup perempuan dan anak perempuan di Gaza mencapai lebih dari 38.000, akibat serangan udara dan operasi darat Israel,” kata Sofia Calltorp, juru bicara UN Women, dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss, dilaporkan AFP.

Menurut Calltorp, data ini menunjukkan bahwa sekitar 22.000 perempuan dan 16.000 anak perempuan menjadi korban. Dalam rata-rata, setiap hari tercatat setidaknya 47 korban perempuan dan anak perempuan yang meninggal. Ia juga menegaskan bahwa angka ini kemungkinan terus meningkat, karena masih banyak jenazah diduga tertimbun di bawah reruntuhan dan sistem pelaporan korban yang terbatas.

UN Women menyoroti bahwa proporsi kematian perempuan dan anak-anak dalam konflik ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Dalam konflik 2008-2009, kelompok tersebut menyumbang 15 persen dari total korban, sedangkan pada 2014, proporsi ini mencapai 22 persen. “Perang saat ini telah menimbulkan dampak yang lebih besar pada kelompok rentan ini,” ujarnya.

Korban serangan tersebut tidak hanya berdampak pada jumlah kematian, tetapi juga menyebabkan hampir 11.000 perempuan dan anak perempuan mengalami luka parah hingga menderita disabilitas seumur hidup. Calltorp menjelaskan bahwa konflik telah mengubah struktur keluarga Palestina, dengan puluhan ribu rumah tangga kini dikepalai oleh perempuan yang kehilangan suami. Mereka harus bertahan hidup sendirian, tanpa penghasilan, dukungan, atau akses ke layanan penting.

Perang Timur Tengah yang dimulai dengan serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari telah memperparah situasi di Gaza. Serangan kolaboratif itu menyebabkan penutupan perlintasan batas dan pembatasan akses bantuan kemanusiaan ke wilayah Palestina, termasuk Tepi Barat dan Gaza. Meski terdapat gencatan senjata antara Israel dan Hamas pada Oktober 2025, serangan terus berlangsung. Kemenkes Gaza mencatat setidaknya 766 warga Palestina tewas sejak perjanjian berlaku.

UN Women menegaskan bahwa bahkan setelah gencatan senjata, pembunuhan terhadap perempuan dan anak perempuan tetap terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Pernyataan ini mendukung laporan Kemenkes Gaza dan memperkuat kredibilitas data yang dihimpun selama periode konflik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *