Key Strategy: Mengapa Israel Bernafsu Ingin Kuasa Lebanon Selatan?
Mengapa Israel Bernafsu Ingin Kuasa Lebanon Selatan?
Operasi militer Israel di Lebanon Selatan telah menyebabkan 350 korban jiwa dan puluhan ribu orang terluka. Pernyataan Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, yang mengungkapkan rencana Tel Aviv untuk mengambil alih wilayah Gaza, Lebanon hingga Suriah, menjadi fokus perdebatan. Keinginan ini sering dikaitkan dengan ambisi “Israel Raya”, yang menjadi bagian dari strategi jangka panjang negara tersebut.
Indonesia menilai aksi Israel sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional, termasuk prinsip hukum humaniter. Penyerangan ini terjadi setelah kegagalan Israel menghancurkan Iran, sehingga negara itu beralih ke Lebanon sebagai target utama. Di sini, pasukan Hizbullah, kelompok milisi yang berbasis di Lebanon, dianggap sebagai ancaman utama.
Konteks Sejarah Pendudukan Israel
Sejak tahun 1982 hingga 2000, Israel menguasai wilayah di bagian selatan Lebanon. Setelah perang terbaru, lima pos militer tetap dijaga di dekat perbaturan, sebagai upaya memastikan kontrol atas daerah tersebut. Aktivitas militer Israel juga menyebabkan kerusakan properti dan korban sipil, yang menjadi konsekuensi nyata dari keberadaan zona sengketa di sepanjang garis batas de facto.
“Pelanggaran serius terhadap hukum internasional”
adalah pandangan Indonesia terhadap tindakan Israel. Zona perdebatan seperti Har Dov dan Ghajar Alawite, yang berada di dekat wilayah yang dikuasai Israel, menjadi saksi bisu ketegangan yang berkelanjutan.
Perbedaan Ideologis dan Kebutuhan Geopolitik
Perbedaan ideologis antara Israel dan Hizbullah, serta kebutuhan geopolitik untuk mengurangi pengaruh Iran, menjadi faktor utama konflik ini. Meski terjadi gencatan senjata yang dinegosiasikan Amerika Serikat pada November 2024, hubungan antara kedua pihak masih dipengaruhi oleh persaingan ideologi.
Kemenangan Hizbullah dalam perang 2023 dan kemudian melemahnya poros regional Iran membuka peluang bagi pemerintah Lebanon baru. Hal ini memungkinkan dialog langsung dengan Israel, yang difasilitasi oleh AS dan Prancis di lokasi Naqoura. Namun, keberadaan Hizbullah masih menjadi hambatan, terutama karena kemungkinan kembalinya kekuatan mereka di wilayah selatan.
Perkembangan Terkini dan Tantangan
Situasi saat ini menunjukkan kehadiran pasukan Israel Bersenjata (IDF) yang terus berlangsung, meski secara terbatas. Demiliterisasi Lebanon Selatan yang belum sempurna, ditambah kekhawatiran atas kemampuan militer Lebanon, menyebabkan ketergantungan pada kekuatan Israel. Hal ini juga menghalangi para pengungsi dari kota-kota perbatuan kembali ke rumah.