Key Strategy: Bijak Berenergi, Bergandengan Tangan Bersama Hadapi Krisis Global

Bijak Berenergi, Kolaborasi Bersama Hadapi Krisis Energi Global

Dalam menghadapi tantangan krisis energi global, pemerintah mengambil langkah strategis dengan menetapkan kebijakan kerja dari rumah (WFH) dan mengajukan dorongan untuk penggunaan energi secara bijak. Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas ekonomi sambil memberi ruang bagi kelompok masyarakat menengah bawah. Untuk sementara, harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tetap stabil hingga akhir tahun. Namun, harga Pertamax Turbo dan produk diesel mengalami penyesuaian akibat kenaikan harga minyak internasional.

Harga BBM Non Subsidi Tetap Konsisten

Harga BBM Non Subsidi RON 92 (Pertamax) serta RON 95 Pertamax Green tidak berubah. Penyesuaian ini menjadi jalan tengah pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan bakar bagi masyarakat sambil mengatur biaya yang lebih efisien. Misalnya, Pertamax Turbo yang sebelumnya dijual Rp13.100 per liter kini dinaikkan menjadi Rp19.400. Sementara Dexlite yang awalnya Rp14.200 per liter naik ke Rp23.600, dan Pertamina Dex dari Rp14.500 menjadi Rp23.900.

Perbandingan Harga BBM di Negara Lain

Dengan adanya penyesuaian tersebut, harga BBM di Indonesia tetap lebih terjangkau dibandingkan rata-rata harga di negara-negara lain. Pertamax Turbo di luar negeri, seperti di Singapura, dijual Rp58.217 per liter, sementara di Thailand mencapai Rp34.845 dan di China Rp24.600. Di Jepang, harga Ron 98 hanya Rp21.100. Meski naik, harga BBM Non Subsidi RON 92 di Indonesia masih Rp12.900, lebih murah dibandingkan rata-rata Rp25.666 di negara-negara tetangga.

Analisis Pakar: Kebijakan Efisiensi Energi Harus Diperkuat

“Supaya masyarakat juga melihat bahwa membeli bensin memang harus berhemat dan sebagainya itu penting,” kata Trubus Rahardiansah, pakar kebijakan publik dari Universitas Trisakti, saat dihubungi pada Minggu (12/4).

Trubus menekankan bahwa kesadaran kolektif masyarakat sangat krusial agar kebijakan hemat energi berjalan efektif. Ia menyarankan promosi bijak berenergi dilakukan secara masif melalui media sosial dan platform komunikasi lain. “Buat melalui media sosial itu, pokoknya di-blast saja lewat WA bahwa ini ada efisiensi itu kan mengingatkan,” tambahnya.

Pemerintah juga diusulkan memanfaatkan pesan singkat untuk mengingatkan pengguna BBM dan listrik agar tidak memperlebar konsumsi. Selain itu, Trubus menyoroti kebutuhan mengkomunikasikan fluktuasi harga minyak mentah dunia agar masyarakat lebih waspada.

Simulasi Dampak Perubahan Perilaku

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Talattov menggambarkan efek dari penggunaan transportasi umum dan kebijakan WFH. Dengan asumsi 10 juta pengguna kendaraan pribadi menghemat 2 liter BBM sehari, perpindahan 1 juta orang ke angkutan umum bisa mengurangi konsumsi nasional sebesar 2 juta liter atau 1,3 persen dari total 155 juta liter. Jika persentase ini mencapai 30 persen, potensi penghematan mencapai 6 juta liter atau setara 3,6 persen.

Dari sisi kebijakan WFH, Abra menyebut ada 5 juta pekerja yang diharapkan bisa mengurangi penggunaan BBM hingga 5 liter per hari. Dengan demikian, penghematan harian mencapai 25 juta liter atau 16,1 persen dari total konsumsi nasional.

Kebijakan ini diapresiasi karena mampu mengurangi beban masyarakat terhadap kenaikan harga. Meski tidak ada kenaikan signifikan, pemerintah tetap menekankan pentingnya kesadaran individu dalam penggunaan energi. Selain itu, pasokan BBM Pertamina di SPBU tetap terjaga, sedangkan harga di SPBU swasta sedikit lebih tinggi, Rp12.390 dibandingkan Rp12.300.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *