Key Strategy: Bitcoin “Kebal” Gejolak Global, Sepekan Bertahan di US$75.000

Bitcoin Tetap Stabil Meski Global Bergetar

Pada pekan ketiga April 2026, pasar aset kripto mengalami peningkatan terukur. Ketidakpastian geopolitik yang belum teratasi antara Amerika Serikat dan Iran berdampak pada aliran dana pendek ke instrumen digital. Meski situasi ini memicu fluktuasi, harga Bitcoin (BTC) tetap berada di atas level US$75.000. Namun, penguatan ini perlu dilihat dari perspektif makroekonomi secara keseluruhan untuk menilai potensi pergerakan jangka panjang.

Kondisi Pasar dan Respon Global

Minggu pertama pekan ini, laporan tentang kegagalan perundingan damai dan ancaman penutupan jalur logistik Selat Hormuz memicu respons pasar. Investor secara bertahap mengumpulkan aset, sehingga BTC naik dari US$73.195 menjadi US$74.126. Di tengah prospek ekonomi yang semakin gelap, akumulasi dana terus berlanjut hingga mencapai US$75.236 pada Kamis (16/4). Kebutuhan akan keamanan global memperkuat perhatian terhadap aset digital sebagai pilihan pelindung nilai.

Peningkatan Harga dan Faktor Eksternal

Seiring eskalasi ketegangan geopolitik, investor mengantisipasi risiko tidak terduga. Ini mendorong hedging signifikan, yang membuat BTC mencapai puncak mingguan US$77.371. Namun, penyesuaian normal terjadi pada Sabtu (18/4), dengan aksi ambil untung menyebabkan koreksi wajar ke US$75.780. Meski ada volatilitas, tren utama tetap berjalan stabil.

Kinerja Aset Kripto Lainnya

Dalam dinamika pasar, aset alternatif (altcoin) juga menunjukkan pergerakan beragam. XRP naik 5,93% ke US$1,43, sementara Binance Coin (BNB) melangkah 3,74% ke US$629,34. Solana (SOL) meningkat 1,36% ke US$86,03, menambah kekuatan sektor kripto. Di sisi lain, Cardano (ADA) turun tipis 0,33% ke US$0,2489, sedangkan Hyperliquid (HYPE) naik 2,19% ke US$43,65.

Faktor Makroekonomi dan Proyeksi Harga

Kenaikan BTC bersumber dari faktor geopolitik, tetapi fondasi utamanya masih bergantung pada likuiditas global dan kebijakan moneter. Suku bunga yang ketat serta risiko inflasi energi menjadi penggerak jangka panjang. Area harga di atas US$75.000 dinilai sebagai zona penyesuaian, sementara target jangka panjang masih berada di rentang US$40.000-US$45.000. Proyeksi ini menunjukkan kemungkinan bottom harga pada paruh kedua 2026.

Artikel ini merupakan pandangan jurnalistik dari CNBC Indonesia Research. Analisis tidak bertujuan mengarahkan pembaca untuk membeli, menjual, atau menahan aset tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya diserahkan kepada pembaca, dan penulis tidak bertanggung jawab atas hasil keputusan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *