New Policy: Gencatan Senjata Hanya Omdo Pemimpin Dunia, Kekerasan Jalan Terus

Gencatan Senjata Hanya Om Doang, Kekerasan Tak Berhenti

Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, yang diumumkan 8 April lalu, segera diikuti oleh berbagai insiden perang. Fakta ini menunjukkan bahwa kesepakatan tersebut lebih seperti janji dibuat para pemimpin global, daripada komitmen nyata untuk mengakhiri konflik. Seusai perjanjian ditetapkan, Israel meningkatkan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon, yang menurut klaim negara itu tidak termasuk dalam gencatan senjata. Sementara itu, Iran meluncurkan pesawat tanpa awak dan rudal ke beberapa negara di kawasan Teluk, sementara Bahrain melaporkan ancaman dari milisi proksi Iran.

Kekerasan Terus Berlanjut di Wilayah Konflik

Arus lalu lintas maritim di Selat Hormuz belum pulih sepenuhnya, sehingga memicu Presiden Donald Trump untuk memerintahkan Angkatan Laut AS memberlakukan blokade pelayaran. Serangkaian peristiwa ini membuktikan bahwa penerapan gencatan senjata di lapangan sering kali jauh dari sempurna. Namun, meskipun pelanggaran terus menguji stabilitas kesepakatan, hal tersebut tidak selalu menggagalkan upaya negosiasi.

Analisis dari The Economist

The Economist mengolah data dari Armed Conflict Location and Event Data (ACLED) mengenai 12.333 peristiwa kekerasan di sembilan wilayah yang terlibat gencatan senjata pasca-2020. Temuan menunjukkan bahwa setiap kesepakatan damai secara konsisten mengurangi intensitas pertempuran, tetapi tidak pernah menghentikan kekerasan sepenuhnya. Dalam 30 hari pertama setelah gencatan senjata, insiden fatal rata-rata turun sebesar 81% dibandingkan masa sebelumnya.

Ceasefire Tahun 2020 dan Tahun 2023

Gencatan senjata Armenia-Azerbaijan pada 2020 dianggap sebagai contoh paling sukses, dengan kekerasan hanya berlangsung sporadis. Sebaliknya, jeda antara Israel dan Hamas pada akhir 2023 serta awal 2025 langsung berubah menjadi pembukaan kembali perang. Meskipun kekerasan mengalami penurunan signifikan di fase awal, secara umum semua perjanjian tidak benar-benar mencapai titik nol dan sering kembali meningkat seiring berjalannya waktu.

Strategi Tawar-Menawar dalam Perang

Menurut Valerie Sticher, peneliti dari Centre for Security Studies ETH Zurich, gencatan senjata yang tidak sepenuhnya menghentikan pertempuran tetap memiliki peran strategis. Ia menegaskan bahwa perjanjian ini sering digunakan sebagai bentuk tawar-menawar, bukan sekadar tindakan kebaikan. Mengutip Carl von Clausewitz, gencatan senjata bisa dianggap sebagai kelanjutan perang melalui jalur lain. Meski beberapa pelanggaran murni terjadi secara tidak sengaja, insiden dalam Perang Teluk Ketiga belakangan ini menunjukkan koordinasi yang terencana.

“Gencatan senjata menjadi sarana untuk mengatur ulang aturan konflik, bukan sekadar akomodasi kemanusiaan,” kata Sticher.

Game Theory dan Batas Toleransi Baru

Dalam konteks teori permainan, kesepakatan damai menciptakan ambang batas toleransi baru. Serangan kecil masih diperbolehkan selama jeda, dan kedua pihak mengelola batasan ini melalui strategi balasan yang setara. Serangan awal gencatan senjata bertujuan menguji batas lawan sekaligus memberikan tekanan psikologis dan politik di meja perundingan.

Terobosan Strategi Deterrence Equations

Strategi terukur ini bukanlah inovasi baru. Iran dan proksinya, Hizbullah, telah lama menerapkan taktik serupa untuk menciptakan “persamaan pencegahan” yang mereka sebut. Dengan merespons setiap serangan secara proporsional, pihak yang lebih lemah bisa menahan lawan kuat tanpa memicu perang besar. Konflik perbatasan Lebanon menjadi laboratorium strategis bagi Iran dalam menguji metode ini. Saat ini, negara itu secara terbuka mencoba menerapkan persamaan pencegahan terhadap Amerika Serikat dengan mengancam akan membalas serangan ke infrastruktur sipil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *