Key Discussion: Gus Kikin: Muktamar NU ke-35 Harus Kembalikan Khittah Organisasi ke Qonun Asasi
Gus Kikin: Muktamar NU ke-35 Harus Kembalikan Khittah Organisasi ke Qonun Asasi
Pada acara Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, Gus Kikin menyoroti pentingnya mengembalikan organisasi ke Qonun Asasi sebagai fondasi awalnya. Ia menjelaskan bahwa dengan kembali pada aturan dasar yang diakui sejak awal, NU bisa lebih kuat dan solid, serta menjadi teladan bagi masyarakat. Gus Kikin, yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, menyatakan hal ini dalam keterangan yang diterima di Jombang, Minggu (19/4).
Gus Kikin berharap Muktamar ke-35 ini bisa membawa NU kembali ke semangat persatuan dan kesatuan. Menurutnya, gerakan NU harus dijalankan dengan prinsip ukhuwah dan soliditas, sehingga mampu memberikan contoh baik bagi seluruh warganya. “NU itu harokah, NU itu gerakan, para muassis mengajarkan ukhuwah, persatuan, solid, dan memberi contoh yang baik,” tutur Gus Kikin.
“NU itu dikembalikan ke Qonun Asasi, ikuti aturan yang ada (AD/ART). NU itu harokah, NU itu gerakan, para muassis mengajarkan ukhuwah, persatuan, solid, dan memberi contoh yang baik,” ujar Gus Kikin.
Dalam konteks sejarah, Gus Kikin menyebut bahwa NU dibentuk sebagai respons terhadap kondisi global. Saat itu, Raja Arab Saudi mencoba memaksa mazhab Wahabi kepada jamaah haji, serta berencana menghancurkan situs-situs bersejarah seperti makam Rasulullah. Untuk mengatasi hal tersebut, Komite Hijaz didirikan. Rombongan ini bertugas mengirim delegasi ke Raja Arab Saudi guna menyampaikan aspirasi, termasuk membahas kebutuhan organisasi resmi.
Dari pertemuan Komite Hijaz di Kertopaten, Surabaya, lahir nama Jamiyah Nahdlatul Ulama. Gus Kikin menegaskan bahwa NU dari awal telah memiliki orientasi global, baik dalam anggota maupun tujuannya. “Anggota jamiyah itu juga ada dari Mesir dan India yang bermukim di Surabaya. Jadi, NU itu sudah lama bersifat global dari sikap/tujuan dan anggota,” tambahnya.
Gus Kikin juga menyampaikan kesiapannya untuk mengemban amanah dalam Muktamar NU 2026 jika dianggap layak. Ia menegaskan tidak meminta dipilih, tetapi siap menjalankan tanggung jawab jika diberikan dorongan dan amanat. “Kalau saya didorong ya jalan, kan saya maju itu sebagai kewajiban ya sudah. Kalau tidak ada yang dorong ya nggak apa-apa, karena yang penting itu saya tidak meminta,” pungkas Gus Kikin.
Menurutnya, prinsip utama dalam menjalankan amanah adalah tanpa menghalalkan segala cara. Hal ini sejalan dengan harapan Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE), Prof Dr KH Masykuri Bakri, yang menginginkan Muktamar 2026 membawa NU kembali ke khittah KH Hasyim Asy’ari. “Persatuan dan kesatuan itu kunci utama, kami berdoa agar NU kembali ke khittah,” ujar Masykuri.
Rombongan Masyayikh dari PP Al-Falah Ploso dan PP Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, menyertai pernyataan Masykuri. Gus Kikin menekankan bahwa geneologi NU berlandaskan komitmen bersatu, sehingga diharapkan tidak ada ruang bagi pertikaian dan perpecahan di dalam organisasi. Tebuireng Institute di Jombang menyerukan agar NU menghidupkan kembali spirit Qonun Asasi KH M Hasyim Asy’ari, demi persatuan dan kemaslahatan umat.