71 tahun KAA: Di tangan RI – obor Dasasila Bandung tak boleh padam
71 tahun KAA: Di tangan RI, obor Dasasila Bandung tak boleh padam
Jakarta – Konferensi Asia Afrika (KAA), yang merupakan langkah penting dari negara-negara yang baru merdeka, telah mencapai usia 71 tahun. Pada 18–24 April 1955, pemimpin dan perwakilan 29 negara berkumpul di Bandung dengan harapan menciptakan dunia bebas dari dominasi negara-negara besar serta mendorong hubungan persahabatan yang saling merdeka dan setara.
Deklarasi Bandung, yang dikenal sebagai Dasasila Bandung, menjadi simbol utama dari semangat kemerdekaan dan keadilan internasional. Prinsip-prinsipnya diharapkan terus hidup dalam kebijakan luar negeri dan tindakan nyata oleh semua negara yang mengaku mendukungnya, terutama oleh Indonesia sebagai tuan rumah sejarah ini.
Dasasila Bandung: Pilar Persahabatan Global
Dasasila Bandung, yang terdiri dari 10 poin utama, menekankan perlunya menghormati kedaulatan negara, menolak penindasan satu negara terhadap negara lain, serta mengembangkan kepentingan bersama untuk mewujudkan perdamaian dunia. Di tengah penurunan komitmen global terhadap sistem internasional, semangat ini semakin relevan untuk dijaga.
Cita-cita luhur tersebut disarikan dalam Dasasila Bandung, yang menyerukan negara-negara agar senantiasa menghormati kedaulatan, menolak penindasan satu negara terhadap negara lain, serta memajukan kepentingan bersama demi perdamaian.
Dasasila Bandung tidak dapat berdiri sendiri. Prinsip ini memerlukan perjuangan aktif dari setiap negara yang mengklaim mendukungnya. Apalagi Indonesia, sebagai penggagas utama, harus menjadi pelopor memastikan obor semangat kemerdekaan dan keadilan tetap menyala di masa kini.