Solution For: Doktrin Goebbels dalam gaya komunikasi Trump

Doktrin Goebbels dalam gaya komunikasi Trump

Dari Jakarta, sebuah teori klasik dalam studi komunikasi tetap berlaku hingga hari ini: Doktrin Goebbels. Inti dari prinsip ini sederhana, namun kuat; kebohongan yang digaungkan berulang kali akan melekat pada benak publik sebagai fakta mutlak. Joseph Goebbels, mantan Menteri Propaganda Nazi, merancang strategi ini untuk memengaruhi persepsi massa melalui pengulangan yang konsisten. Walaupun tidak disengaja, hal tersebut terjadi pada Donald Trump dalam beberapa kesempatan terakhir.

Trump sering menggambarkan kemampuan militer AS sebagai penentu utama keberhasilan operasi militer di Timur Tengah. Setiap kali ia membahas konflik dengan Iran, narasi yang digunakan mencerminkan pola kebohongan berulang. Misalnya, pada akhir Maret, ia menyatakan bahwa Washington akan “meledakkan dan melenyapkan sepenuhnya” infrastruktur vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan pabrik desalinasi, jika kesepakatan damai tidak tercapai.

“Meledakkan dan melenyapkan sepenuhnya”

adalah kalimat yang berulang kali ditemukan dalam pidatonya.

Perkembangan aktual justru menunjukkan kebalikan dari klaim tersebut. Hingga pertengahan April, Selat Hormuz—salah satu jalur utama pengiriman minyak—masih berada di bawah kendali Iran. Fakta ini justru memicu krisis pasokan energi global. Dalam situasi ini, Trump tetap mempertahankan narasinya, menyebut Iran sebagai “orang-orang gila” yang menolak negosiasi.

“Orang-orang gila”

menjadi kata kunci yang diulang untuk memperkuat imajinasi publik.

Taktik ini mencerminkan apa yang disebut “Kebohongan Besar”, teknik yang menurut Goebbels lebih efektif daripada kebohongan kecil. Meski Komite Intelijen Senat AS, melalui Mark Warner, menyatakan tidak ada bukti ancaman langsung dari Iran, Trump terus menekankan pernyataannya. Repetitif dan konsisten, narasi ini dirancang agar massal menganggapnya sebagai kebenaran tak terbantahkan. Dengan demikian, gaya komunikasinya menggambarkan aplikasi modern dari doktrin bersejarah tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *