Main Agenda: Geger! Raksasa Pertahanan NATO Ketahuan “Layani” Satelit Militer China

Geger! Raksasa Pertahanan NATO Ketahuan “Layani” Satelit Militer China

Temuan tak terduga oleh Newsweek mengungkap bahwa perusahaan layanan satelit utama Eropa, Kongsberg Satellite Services (KSAT), yang dimiliki oleh kontraktor pertahanan NATO, sedang diberi izin untuk mengoperasikan puluhan satelit milik perusahaan China, Chang Guang Satellite Technology Co. Ltd. (CGSTL), yang dekat dengan kepentingan militer Beijing. Fakta ini memicu kecemasan besar dalam situasi konflik global yang memanas, dengan Amerika Serikat, Iran, dan Rusia sebagai pihak utama. Dokumen dari Otoritas Komunikasi Norwegia (NKOM) menyatakan bahwa KSAT diperbolehkan berkomunikasi dengan 42 satelit CGSTL.

CGSTL, perusahaan penyedia citra satelit komersial terbesar di Tiongkok, didirikan bersama pemerintah provinsi Jilin dan lembaga riset nasional yang melayani kebutuhan pertahanan negara. Keterlibatan perusahaan satelit swasta dalam operasi militer kini menjadi sorotan internasional, seiring perang Iran yang dipicu AS dan Israel, serangan Houthi di Laut Merah, serta invasi Rusia ke Ukraina. Satelit komersial dianggap memegang peran penting dalam mendukung pihak-pihak yang bertikai untuk memantau aktivitas musuh.

“Kami tahu CGSTL telah mendukung teroris Houthi yang terafiliasi dengan Iran, yang menyerang kepentingan AS. Perusahaan tersebut menjaga hubungan erat dengan pemerintah dan militer,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, dilansir Senin (20/4/2026).

Kecurigaan semakin kuat setelah komite kongres AS memberi peringatan kepada Pentagon bahwa Iran kemungkinan mengakses data militer AS melalui perusahaan antariksa Barat. KSAT mengklaim menjaga kerahasiaan bisnis, sehingga tidak mengungkap detail kontrak dengan klien, termasuk CGSTL. “Klausul kerahasiaan dalam kontrak kami membatasi komentar publik tentang pelanggan, baik lama maupun baru,” tutur juru bicara KSAT melalui email.

NKOM mengancam denda terhadap KSAT karena melanggar aturan dengan berkomunikasi tanpa izin ke lima satelit melalui stasiun SvalSat di Arktik dan TrollSat di Antartika. Direktur NKOM, Espen Slette, menyoroti bahwa pelanggaran berulang KSAT berdampak besar pada kepercayaan internasional. “Perilaku ini sangat serius, karena KSAT berkomunikasi dengan satelit tanpa izin. Kami mengingatkan adanya biaya yang tinggi untuk ketidakpatuhan ini,” katanya dalam pernyataan resmi.

Dokumen lisensi menunjukkan KSAT telah mengajukan izin untuk melayani CGSTL setidaknya dua kali dalam lima tahun terakhir, yaitu pada 2021 dan September 2023, dengan masa berlaku hingga 2028. Namun, para ahli industri menganggap tindakan ini tidak masuk akal, mengingat CGSTL telah disanksi oleh AS, Uni Eropa, Jepang, dan Taiwan karena menyuplai peralatan militer Rusia. John Strand, CEO Strand Consult, mengkritik penggunaan KSAT untuk mengoperasikan satelit mata-mata China. “Mengizinkan perusahaan pertahanan bekerja sama dengan satelit CGSTL dianggap absurd. Satelit ini justru mengamati es dan air, bukan pertanian,” ujarnya.

Kekhawatiran serupa juga melingkupi Airbus Space, perusahaan penerbangan besar lainnya. Komite kongres AS menyoroti potensi akses Iran ke informasi militer AS melalui layanan satelit Barat, memperkuat keraguan terhadap peran perusahaan swasta dalam konflik geopolitik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *