What Happened During: Ade Armando dan Permadi Arya Dipolisikan Buntut Video JK

Ade Armando dan Permadi Arya Dilaporkan ke Polda Metro Jaya

Aliansi Profesi Advokat Maluku (APAM) melaporkan Ade Armando serta Permadi Arya ke Polda Metro Jaya, dengan alasan dugaan tindak pidana penghasutan dan provokasi. Laporan ini terdaftar sebagai LP/B/2767/IV/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA dan disampaikan oleh perwakilan APAM, Paman Nurlette, kepada wartawan pada Senin (20/4). “Kami datang ke Polda Metro Jaya untuk membuat laporan polisi terkait dugaan penghasutan dan provokasi yang dilakukan Ade Armando serta Permadi Arya melalui media sosial,” ujarnya.

Laporan tersebut merujuk pada potongan ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), yang diunggah ke YouTube oleh Ade dan ke Facebook oleh Permadi. Nurlette menyatakan, potongan-potongan tersebut menciptakan kegaduhan dan keonaran di ruang publik. “Video yang dipotong itu menyebabkan masyarakat terpapar pandangan negatif, kebencian, dan permusuhan,” imbuhnya.

Nurlette menegaskan bahwa jika video ceramah JK ditampilkan secara utuh, tanpa dipotong, maka masyarakat tidak akan terprovokasi. “Saya yakin video tersebut tidak menimbulkan kontroversi jika tidak dipotong seperti yang terjadi sekarang,” katanya. Dalam laporan, pelapor menyertakan bukti-bukti seperti video lengkap ceramah JK, potongan yang diunggah Ade di YouTube Cokro TV, dan potongan dari akun Facebook Permadi.

Konteks Ceramah JK

Jusuf Kalla sendiri menolak menyebut ceramahnya di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai penistaan agama. “Ceramah itu digelar saat Ramadan dan berisi pesan perdamaian,” jelas JK di kediamannya, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4). Ia menjelaskan bahwa topik utama ceramah tersebut adalah upaya mencapai perdamaian, bukan membahas dogma atau ideologi agama.

“Saya tidak membahas ajaran agama, melainkan menjelaskan konflik yang terjadi di Poso dan Ambon. Mereka berlarut-larut tanpa solusi, sehingga saya turun tangan membantu menyelesaikannya,” ujar JK.

JK menegaskan bahwa konflik di dua daerah tersebut disebabkan oleh persepsi masyarakat yang menganggap perang antaragama. “Masyarakat mengira siapa pun yang meninggal dalam konflik dianggap syahid atau martir,” tambahnya. Meski menggunakan istilah “syahid” saat berada di masjid, ia menyatakan bahwa konsep tersebut tidak jauh berbeda dari martir dalam konteks Kristen.

Menurut JK, tidak ada ajaran dalam agama Islam maupun Kristen yang mendorong saling membunuh. “Saya tidak membahas dogma agama, tetapi mengupas alasan konflik,” ujarnya. Ia menekankan bahwa pesan perdamaian yang disampaikan adalah untuk menghindari kesalahpahaman antarumat beragama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *