Latest Program: Kapal Perang China Siaga di Pasifik saat AS dan Sekutu Latihan Militer

Kapal Perang China Siaga di Pasifik Selama Latihan Militer AS dan Sekutu

Pada 20 April, Amerika Serikat, Filipina, dan Jepang melakukan latihan militer bersama di dekat Laut China Selatan serta Taiwan. Sehari sebelum pelaksanaan latihan, Kapal Perang China dikabarkan bergerak di perairan antara Amami Oshima dan Yokoate, kata Kantor Staf Gabungan Kementerian Pertahanan Jepang. Dua kapal, yakni Baotao dan fregat Tipe 054A Huanggang, dilaporkan berlayar di jalur tersebut. Ini merupakan bagian dari latihan rutin yang disusun sesuai rencana tahunan, menurut Komando Teater Timur militer China. Mereka mengirimkan kapal perang tersebut untuk menguji operasi laut jauh pasukan mereka.

Kapal China Pertama Kali Diumumkan Secara Terbuka

Kapal perang China biasanya tidak memberikan pengumuman resmi tentang aktivitas militer mereka. Namun, kali ini mereka secara terbuka menyatakan pengerahan kapal tersebut. Juru bicara Komando Teater Timur, Kolonel Xu Chenghua, menjelaskan bahwa tindakan ini sesuai dengan hukum dan praktik internasional, serta tidak bermaksud menargetkan negara tertentu.

“Hal ini sesuai dengan hukum dan praktik internasional, dan tidak menargetkan negara atau entitas tertentu,” kata Xu Chenghua.

Kapal-kapal China biasanya berlayar di perairan dekat pulau-pulau barat daya Jepang, kemudian menuju Samudra Pasifik dengan melewati Selat Miyako. Meski pernah berada di jalur antara Amami Oshima dan Yokoate, tetap saja keberadaan mereka di daerah ini dianggap langka karena lebih dekat ke daratan Jepang.

Dalam pernyataan terpisah, Kementerian Pertahanan Taiwan mengklaim mendeteksi kapal induk Liaoning di Selat Taiwan. Pihak Taipei terus memantau gerakan kapal tersebut. Latihan militer gabungan AS dan Filipina berlangsung dari 20 April hingga 8 Mei, melibatkan Jepang yang mengirim sekitar 1.400 personel, beberapa kapal perang, pesawat, serta sistem rudal anti-kapal Tipe 88.

Analisis menunjukkan, partisipasi Jepang dalam latihan Balikatan ini menunjukkan fokus Tokyo dalam menghadapi ancaman dari China terhadap Taiwan. Hubungan antara China dan Jepang memanas setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan kemungkinan intervensi militer jika terjadi konflik di Taiwan. Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara Taipei menuntut kemerdekaan dan memiliki pemerintahan sendiri.

Sebagai respons, China telah membatasi ekspor barang dwifungsinya, memperketat aturan impor logam tanah jarang, dan mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warga China. Dalam konferensi pers, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, memperingatkan bahwa latihan militer AS, Filipina, dan Jepang bisa memicu reaksi negatif dari negara-negara kawasan, khususnya China.

Guo Jiakun menegaskan bahwa kerja sama sembrono atas nama keamanan “sama seperti bermain api, yang pada akhirnya akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *