Meeting Results: Iran Jelang Gencatan Berakhir: Siap Buka Kartu Baru di Medan Perang!
Iran Menghadapi Akhir Gencatan Senjata: Siap Mengambil Tindakan di Medan Perang
Ketua parlemen Iran, Mohammad Ghalibaf, mengklaim bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) siap menggempur Amerika Serikat dan Israel jika gencatan senjata sementara berakhir pada Rabu (22/4). Dalam postingan di X pada Senin (20/4), ia menyatakan bahwa Iran tidak ingin melanjutkan perundingan damai putaran kedua dengan AS, menurutnya karena Presiden Donald Trump tidak sungguh-sungguh ingin mengakhiri konflik melalui negosiasi.
Menurut Ghalibaf, Trump lebih memilih menggunakan meja perundingan sebagai alat untuk memenuhi semua kepentingan negara baginya. “Kami menolak berunding di bawah ancaman, dan dalam dua minggu terakhir, kami telah menyiapkan strategi baru di medan perang,” tulisnya dalam cuitannya. Gencatan senjata dua minggu yang disepakati antara AS dan Iran mulai berlaku 8 April lalu. Beberapa hari setelahnya, mereka melakukan pertemuan di Islamabad, Pakistan, untuk melanjutkan pembicaraan.
Pembicaraan tersebut berakhir tanpa kesepakatan. Negosiasi putaran kedua dijadwalkan berlangsung pada pekan ini, tetapi Iran menolak secara tegas. Ghalibaf menyebut pemerintahan Trump melanggar gencatan senjata dengan menerapkan blokade di Selat Hormuz dan menyerang kapal Iran. Ia menilai Trump mencoba mengubah situasi perundingan menjadi meja penyerahan diri, sebagai alasan untuk memulai kembali provokasi perang.
“Trump, dengan blokade dan pelanggaran gencatan senjata, berusaha memperkuat imajinasinya sendiri bahwa meja perundingan ini adalah meja penyerahan diri atau pengembangan kembali perang,” ujarnya.
AS memprediksi peluang memperpanjang gencatan senjata kecil. “Sangat kecil kemungkinan saya memperpanjangnya,” kata Trump dalam wawancara dengan Bloomberg, seperti dikutip CNN. Jika negosiasi gagal, dia yakin perang bisa kembali memanas. Sejak 28 Februari, AS dan Israel melakukan serangan besar-besaran terhadap Iran, menyebabkan kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat Iran lainnya.
Sekaligus, Iran membalas serangan tersebut. Kekacauan semakin memuncak karena kedua belah pihak terus melakukan blokade di Selat Hormuz.