Historic Moment: Harga Minyak Melemah ke US$94, Pasar Tunggu Perundingan AS-Iran

Harga Minyak Melemah ke US$94, Pasar Tunggu Perundingan AS-Iran

Trend Harga Minyak Global

Pada perdagangan Selasa pagi (21/4/2026), harga minyak global mengalami penurunan, setelah naik tajam di hari sebelumnya. Pasar kini fokus pada kemungkinan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang direncanakan pekan ini. Gangguan pasokan di Selat Hormuz, yang belum sepenuhnya teratasi, juga menjadi faktor yang memengaruhi fluktuasi harga.

Konteks Geopolitik yang Mengganggu

Menurut Refinitiv, hingga 09.30 WIB, kontrak Brent tercatat di US$94,92 per barel, turun dari US$95,48 pada hari sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) stabil di US$88,50 per barel, lebih rendah dari US$89,61 pada Senin. Meski melemah hari ini, harga minyak tetap berada di level tinggi.

Brent melonjak dari US$94,75 pada 8 April hingga mencapai US$94,92 saat ini, sempat menyentuh US$99 pada 13 dan 16 April. WTI justru lebih volatil, bergerak dari US$94,41 pada 8 April, naik ke US$99,08 pada 13 April, lalu anjlok ke US$83,85 pada 17 April sebelum kembali naik ke US$88,50.

“Teheran masih mempertimbangkan partisipasi dalam perundingan damai di Pakistan,” ujar seorang pejabat senior Iran.

Proyeksi Pasar dan Kondisi Ekspor

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi penyebab pergerakan liar harga minyak, menurut Ruters. Iran kembali memblokir Selat Hormuz pada Senin, jalur laut kritis yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia. Di sisi lain, AS menyita kapal kargo Iran sebagai bagian dari blokade pelabuhan.

Jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung satu bulan, kehilangan pasokan global bisa mencapai 1,3 miliar barel, menurut Citigroup. Dalam skenario terburuk, harga minyak mungkin mendekati US$110 per barel di kuartal II-2026. Selama ini, tekanan harga mulai terasa di sektor konsumsi.

Societe Generale memperkirakan permintaan minyak global turun sekitar 3% akibat harga energi yang melonjak. Saat kenaikan tajam terjadi, industri dan konsumen cenderung menahan penggunaan bahan bakar. Kuwait bahkan menyatakan force majeure atas pengiriman minyak karena pengaruh blokade Hormuz.

Perkembangan Terkini dan Potensi Pergerakan

Dengan kondisi dua faktor—ancaman pasokan yang nyata dan harapan diplomasi yang belum pasti—harga minyak bisa berubah cepat dalam waktu singkat. Saat ini, US$95 menjadi area psikologis penting bagi Brent. Jika negosiasi berjalan lancar, harga mungkin terkoreksi lebih dalam ke kisaran US$90. Namun, jika perundingan gagal dan Selat Hormuz tetap terganggu, pasar berpotensi kembali menyentuh US$100 hingga US$110 per barel.

Perubahan harga akan sangat bergantung pada dinamika antara ancaman pasokan dan kemajuan diplomasi. CNBC Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *