Solution For: Memahami consent untuk membangun ruang aman
Memahami Consent untuk Membangun Ruang Aman
Ruang aman bagi semua adalah tujuan yang seharusnya diimplementasikan, bukan hanya diucapkan sebagai slogan. Di tengah meningkatnya insiden kekerasan seksual di berbagai lingkungan, termasuk pendidikan, kebutuhan ini jadi semakin mendesak. Tempat belajar yang ideal seringkali berubah menjadi lokasi ketimpangan kekuasaan, penggunaan otoritas yang tidak tepat, dan pelanggaran batas tubuh. Fenomena ini tidak hanya persepsi subjektif, tetapi juga terbukti secara sistemik.
Dalam laporan terbaru, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan mencatat bahwa selama beberapa tahun belakangan, ratusan kasus kekerasan seksual dilaporkan di perguruan tinggi. Pada periode 2021 hingga 2024 saja, terdapat 82 kasus yang tercatat. Angka ini mungkin hanya bagian kecil dari kejadian nyata. Menurut catatan tahunan Komnas Perempuan, jumlah keseluruhan kekerasan berbasis gender melebihi 330.000 kasus, dengan sejumlah signifikan terjadi di sektor pendidikan.
Kampus tidak bisa dianggap sebagai wilayah bebas dari konflik, melainkan bagian dari struktur masalah yang lebih luas. Salah satu penyebab utama terletak pada kurangnya pemahaman tentang consent. Banyak orang, termasuk mahasiswa, dosen, dan staf pendidikan, masih memandang consent sebagai tidak adanya penolakan eksplisit.
“Consent dipahami sebagai persetujuan yang diberikan secara bebas dan jelas, baik verbal maupun nonverbal,”
kata peneliti Muehlenhard (2016). Konsep ini menunjukkan bahwa persetujuan bukan asumsi, melainkan komunikasi aktif yang sadar, tidak tertekan, dan terus-menerus.
Pemahaman yang keliru ini berdampak pada normalisasi tindakan kekerasan. Banyak peristiwa yang seharusnya dikategorikan sebagai kekerasan justru dianggap sebagai kesalahpahaman. Hal ini semakin rumit ketika dikaitkan dengan stereotip sosial mengenai maskulinitas. Budaya sering kali membentuk laki-laki dalam kerangka dominasi dan kontrol, di mana hubungan dengan perempuan menjadi arena untuk memperlihatkan kekuatan diri.
“Mahasiswa sering memahami consent sebagai tidak ditolak, yang berpotensi menyebabkan salah tafsir dalam interaksi,”
menurut penelitian Anyadike-Danes (2023). Pendekatan modern menekankan affirmative consent, di mana persetujuan harus dinyatakan dengan jelas, sadar, dan terus-menerus. Ini berarti laki-laki perlu belajar bahwa diam bukan berarti setuju, keraguan artinya penolakan, serta consent dapat ditarik kapan saja, bahkan dalam hubungan yang sudah terjalin.