Penularan HPV bisa terjadi secara seksual dan non-seksual
Penularan HPV Bisa Terjadi Secara Seksual dan Non-Seksual
Jakarta – Dr. Hanny Nilasari, ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Perdoski), mengungkapkan bahwa virus human papillomavirus (HPV) memiliki dua cara menular: melalui kontak seksual dan non-seksual. Pada acara kesehatan bersama MSD Indonesia di Jakarta, Selasa, ia menjelaskan bahwa HPV dapat menyebar melalui hubungan langsung antar kulit, termasuk kontak seksual.
“Transmisi virus HPV bisa terjadi melalui kontak langsung maupun kontak seksual, seperti hubungan antar kulit dan hubungan seksual,” ujarnya.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Kondisi yang ditimbulkan oleh HPV meliputi pertumbuhan benjolan di kulit dan organ intim. Gejala ini sering kali terlihat sebagai kutil yang menyerupai bentuk kembang kol, umumnya tidak menyakitkan, ukurannya kecil sehingga sulit terdeteksi, dan bisa bervariasi dalam tekstur.
“Kutil kelamin sering kali muncul dengan bentuk benjolan yang tidak hilang secara mandiri, justru membesar dan jumlahnya bertambah. Kondisi ini bisa disertai perubahan seperti mudah berdarah atau infeksi,” tambah Dr. Hanny.
Di area mulut, gejala serupa juga mungkin terjadi, dengan permukaan benjolan yang bisa halus atau berbenjol. Gejala lain yang bisa muncul termasuk perubahan suara atau sakit tenggorokan. Hal ini sering diabaikan oleh pasien.
Mekanisme Penularan Non-Seksual
Penularan HPV tidak hanya terjadi melalui hubungan seksual. Dr. Hanny menjelaskan bahwa virus ini juga bisa menyebar melalui kontak non-seksual, seperti dari ibu ke bayi saat proses persalinan normal (melalui vagina).
“Selain itu, infeksi bisa terjadi melalui benda-benda seperti alat bantu, inokulasi mandiri, atau paparan di rumah sakit,” tambahnya.
Metode penularan non-seksual ini menunjukkan bahwa HPV tidak terbatas pada hubungan intim, tetapi juga bisa menyebar melalui jalur lain.
Faktor Risiko Infeksi HPV
Dr. Hanny menyoroti bahwa faktor risiko infeksi HPV mencakup kondisi sistem kekebalan tubuh yang lemah, baik lokal maupun sistemik. Misalnya, pada usia lanjut, penurunan imunitas dapat memperparah gejala.
“Perubahan sifat virus berdampak pada kekuatan menempelnya pada kulit, sehingga bisa menyebabkan perubahan sel. Faktor lain seperti merokok, konsumsi alkohol, seks oral, dan hubungan seks dengan jenis yang sama juga meningkatkan risiko infeksi,” ujarnya.