Latest Program: RI Ternyata Produksi Panel Surya 11 GW, Separuhnya Diekspor ke AS
Indonesia Produksi Panel Surya 11 GW, Sebagian Tersendat oleh Tarif AS
Indonesia memproduksi panel surya sekitar 11 gigawatt (GW) setiap tahun, menurut laporan terbaru. Namun, industri lokal mengalami hambatan karena sebagian besar kapasitas produksi yang awalnya ditujukan untuk ekspor ke Amerika Serikat tidak bisa terserap. Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sripeni Inten Cahyani menjelaskan bahwa kapasitas nasional terdiri dari 5 GW produksi dalam negeri dan 6 GW untuk ekspor. Kebijakan tarif tinggi dari AS menghambat keberlanjutan ekspor tersebut.
“Total kapasitas produksi PLTS nasional adalah 11 GW, di mana sebagian besar semula bisa ekspor ke Amerika. Kini, produksi itu terhambat karena AS memberlakukan pajak hingga 120 persen atau 80 persen. Ini membuat mereka sulit pergi ke sana,” kata Sripeni di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Kondisi ini menyebabkan akumulasi produksi di dalam negeri karena pasar ekspor tidak bisa menyerap. Sripeni mengingatkan bahwa risiko ini berpotensi mengganggu kelangsungan industri, termasuk pengurangan tenaga kerja jika situasi tidak segera membaik. Contohnya adalah PT Trina Mas Agra Indonesia (TMAI), yang beroperasi di Kendal, Jawa Tengah. Perusahaan ini memiliki kapasitas sekitar 1 GW per tahun, namun operasionalnya mulai terganggu akibat penyerapan pasar yang minim.
“Karena tidak ada penyerapan sejak awal produksi, kuota PLTS menjadi faktor utama. Maka, kapasitas 1,5 GW yang disampaikan sebelumnya justru jadi kuda hitam,” ujarnya.
Kebijakan tarif impor AS dikhawatirkan memperparah ketergantungan industri lokal pada pasar ekspor. Sripeni menyoroti perlunya penyesuaian strategi untuk memastikan produksi tetap berkelanjutan di tengah tantangan eksternal.