Special Plan: Indonesia tidak Kekurangan Energi, Tapi Kehilangan Efisiensi Transmisi
Indonesia Berada di Titik Kritis dalam Pengembangan Energi
Dalam upaya mendorong pembangunan sektor energi, Indonesia menghadapi tantangan berupa kurangnya efisiensi dalam distribusi dan transmisi listrik. Meskipun tidak mengalami defisit energi, kehilangan efisiensi sistem tenaga menjadi hambatan utama. RUPTL PLN 2025-2034 menetapkan target peningkatan kapasitas energi baru dan terbarukan (EBT) hingga 42.569 MW, dengan total kapasitas pembangkit mencapai 69.512 MW. Namun, pencapaian ini tergantung pada kemampuan meningkatkan efisiensi transmisi yang saat ini masih terbatas.
Kendala Efisiensi dalam Sistem Tenaga Nasional
Kerugian energi signifikan dalam jaringan transmisi dan distribusi mengurangi daya guna infrastruktur yang telah dibangun. Untuk mengatasi masalah ini, teknologi superkonduktor menawarkan solusi inovatif. Material ini mampu menghantarkan listrik tanpa hambatan saat didinginkan pada suhu rendah. Penemuan superkonduktor suhu tinggi pada tahun 1986 memungkinkan penggunaan nitrogen cair, yang lebih praktis dan murah dibanding helium cair.
Kemajuan Teknologi Superkonduktor
Dengan perkembangan teknologi kriogenik modern, superkonduktor kini bisa beroperasi tanpa memerlukan helium atau nitrogen cair. Penggunaan gas seperti hidrogen, nitrogen, atau neon dalam sirkuit tertutup membuatnya lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Pendekatan ini memberi peluang untuk mengembangkan industri superkonduktor di Indonesia, terutama dalam sektor energi.
Di Jerman, pabrik elektrolisis BASF menerapkan busbar superkonduktor yang menurunkan kerugian energi secara signifikan.
Peluang Modernisasi Infrastruktur Energi
RUPTL PLN 2025-2034 mencakup rencana pembangunan transmisi sepanjang 47.758 km, gardu induk berkapasitas 107.950 MVA, serta jaringan distribusi 197.998 km dengan kapasitas 18.407 MVA. Teknologi superkonduktor bisa memperkuat efisiensi sistem ini, meningkatkan kapasitas transmisi, dan memastikan keandalan listrik seiring pertumbuhan kebutuhan energi rata-rata 5,3% per tahun.
Kolaborasi dan Dukungan Riset untuk Transisi Energi
Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan superkonduktor, berkat ketersediaan mineral tanah jarang seperti lantanum (La) dan yttrium (Y) dalam monasit. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan industri menjadi kunci untuk menguasai teknologi kriogenik dan superkonduktor. Dukungan kebijakan seperti insentif fiskal, credit karbon, serta feed-in tariff diperlukan untuk mendorong adopsi teknologi ini.
Peran Teknologi Superkonduktor dalam Transisi Energi
Kabel superkonduktor memiliki kemampuan mengalirkan daya besar tanpa kehilangan energi, meningkatkan stabilitas jaringan, dan mempercepat integrasi energi terbarukan. Contoh nyata adalah proyek transmisi listrik bawah laut Indonesia-Singapura yang memanfaatkan teknologi ini untuk mengurangi rugi energi, menghemat ruang, dan memperkuat keandalan sistem. Dengan mengoptimalkan transmisi, superkonduktor membantu menurunkan ketergantungan pada energi fosil, sejalan dengan target bauran energi bersih 34,3% pada 2034.