Official Announcement: Iran-AS perpanjang gencatan senjata, China sebut situasi masih kritis

Iran-AS Perpanjang Gencatan Senjata, China Sebut Situasi Masih Kritis

Dalam konferensi pers di Beijing, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan bahwa negara itu mendukung perpanjangan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS) meski menilai kondisi wilayah Timur Tengah masih berpotensi memicu konflik. “Situasi saat ini di wilayah Timur Tengah masih memicu kekhawatiran besar,” jelas Guo. Ia menekankan bahwa pihak-pihak terlibat harus terus berupaya melalui dialog politik untuk mencapai gencatan senjata yang permanen.

Pernyataan Guo muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pengembangan gencatan senjata yang sebelumnya berakhir pada 22 April hingga Iran mengajukan “proposal terpadu” yang mencakup syarat-syarat untuk berakhirnya perang, sambil tetap mempertahankan tekanan terhadap Teheran. Namun, Iran menolak negosiasi selama blokade laut AS berlangsung dan menganggap langkah tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan.

“Prioritas utama adalah mencegah kembali pertempuran serta menjaga perdamaian dan stabilitas di wilayah Timur Tengah dan Teluk,” ujar Guo Jiakun. Ia menambahkan bahwa China siap berperan aktif dalam kerja sama internasional berdasarkan empat prinsip yang diajukan Presiden Xi Jinping.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengingatkan bahwa produksi minyak di seluruh wilayah Timur Tengah bisa menjadi sasaran jika serangan diluncurkan dari negara-negara tetangga. “Dengan memperpanjang gencatan senjata, kita berharap mengurangi risiko konflik berlanjut,” tambah Guo. Empat prinsip yang diusung China mencakup komitmen pada hubungan damai antarnegara, penghormatan terhadap kedaulatan dan keamanan wilayah negara-negara Teluk, penegakan hukum internasional dengan PBB sebagai inti, serta pendekatan seimbang antara pembangunan dan keamanan.

Menanggapi pernyataan Trump, juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa militer Iran siap menyerang target yang ditentukan jika AS meluncurkan serangan baru, seperti dilaporkan oleh televisi pemerintah Iran pada Rabu. Ketegangan meningkat sejak 28 Februari ketika AS dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di wilayah Timur Tengah. Pada 7 April, Washington dan Teheran mencapai kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu hingga 22 April 2026. Namun, perundingan lanjutan di Islamabad pada 11–12 April tidak menghasilkan kesepakatan. Sebagai respons, Trump memerintahkan Angkatan Laut AS memblokade pelabuhan Iran untuk menekan Teheran kembali ke meja perundingan.

Sejak 13 April, AS menutup lalu lintas maritim di kedua sisi Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pasokan minyak, produk bumi, dan LNG global, menyumbang sekitar 20 persen dari total pasokan. Komando Pusat AS (CENTCOM) juga memastikan penyitaan kapal dagang Iran Touska yang disebut berupaya menembus blokade di Teluk Oman, dan saat ini berada di bawah kendali AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *