Special Plan: Harga Saham di Luar Nalar, Investor Kok Tetap Serbu Saham CASA?

Harga Saham di Luar Nalar, Investor Kok Tetap Serbu Saham CASA?

Kinerja Saham CASA yang Mengikis Logika Valuasi

Jakarta – PT Capital Financial Indonesia Tbk. (CASA) kini berada di posisi 10 besar emiten keuangan berdasarkan kapitalisasi pasar. Meski saham ini mengalami kenaikan 69% dalam setahun terakhir dan hingga 234% dalam lima tahun terakhir, nilai valuasi perusahaan justru dinilai tidak seimbang dengan hasil usaha yang tercatat.

Kapitalisasi pasar CASA mencapai sekitar Rp67 triliun, namun laba bersih dalam 12 bulan terakhir hanya mencapai Rp130 miliar. Hal ini menyebabkan rasio price to earnings (PER) perusahaan melonjak hingga 515 kali, yang dinilai sangat tinggi dibandingkan sektor keuangan lainnya.

Makin tingginya rasio tersebut berarti investor membayar Rp515 untuk setiap Rp1 laba yang diperoleh perusahaan, atau dalam kata lain, perlu 515 tahun bagi pemegang saham untuk kembali mendapatkan uangnya melalui dividen, asumsi seluruh laba dibayarkan.

Perbandingan dengan Emiten Bank Lain

Bank besar seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) memiliki PER 13,93 kali, sementara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) 8,72 kali, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BBRI) 7,88 kali. Kapitalisasi pasar bank-bank ini mencapai ratusan triliun, jauh melampaui CASA.

Beberapa bank menengah dengan laba triliunan rupiah pun masih kalah dalam kapitalisasi pasar dibandingkan CASA. Contohnya, PT Bank Mega Tbk. (MEGA) dengan PER 19,12 kali, PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) 9,48 kali, serta PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) 6,98 kali.

Kondisi Perusahaan dan Riwayat Pembagian Dividen

CASA tidak mampu menunjukkan pertumbuhan laba yang signifikan dalam dua tahun terakhir. Tahun 2023, perusahaan mencatatkan laba bersih Rp83 miliar, kemudian naik 33% di 2024 menjadi Rp111 miliar, dan pertumbuhan melambat menjadi 17% di 2025 dengan laba Rp110 miliar.

Selain itu, perusahaan ini belum pernah membagikan dividen kepada pemegang saham sejak diperdagangkan di bursa pada Juli 2016. Fakta ini menambah keraguan atas kelangsungan nilai saham yang terus menguat meski performa keuangan dinilai belum memadai.

Kontrol Pemilik Utama dan Struktur Perusahaan

Sebagai informasi, pemegang manfaat akhir saham CASA adalah Danny Nogroho. Ia menguasai 67,06% saham melalui PT Capital Strategic Invesco sejak 30 September 2025.

CASA juga menjadi induk perusahaan dari beberapa entitas finansial, salah satunya PT Bank Capital Indonesia Tbk. (BACA). Melalui PT Capital Global Investama, perusahaan mengendalikan 64,7% saham BACA per 30 September 2025.

Dalam sesi II perdagangan hari ini, CASA tercatat mengalami penurunan 3,14%. Namun, dalam setahun terakhir, saham ini telah bergerak hingga 64,67%, menunjukkan ketertarikan investor meski valuasi terus memburuk. Keselarasan antara peningkatan harga saham dan kinerja fundamental perusahaan tetap menjadi pertanyaan besar bagi para pelaku pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *