Key Strategy: Mata Uang Asia Kebakaran: Rupiah Paling Sengsara, Negara Ini Selamat
Mata Uang Asia Kebakaran: Rupiah Paling Sengsara, Negara Ini Selamat
Fluktuasi Mata Uang Asia di Bursa Pagi Ini
Pada perdagangan Kamis (23/4/2026), sebagian besar mata uang negara-negara Asia terpantau melemah terhadap dolar AS. Mengacu pada data Refinitiv, per pukul 09.40 WIB, dari sepuluh mata uang yang diawasi, hanya dua yang menguat sementara tujuh lainnya mengalami penurunan. Rupiah menjadi mata uang paling terpuruk, mengalami koreksi hingga 0,82% ke level Rp17.310/US$, yang menandai penembusan level psikologis baru di Rp17.300/US$. Posisi ini juga mencatatkan penurunan terbesar dalam sejarah perdagangan spot.
Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran memengaruhi dinamika pasar. Setelah Iran menyita dua kapal di Selat Hormuz, tekanan terhadap dolar AS terus berlanjut, didorong oleh kenaikan harga minyak yang kembali menembus US$100 per barel. Kondisi ini memperkuat posisi dolar AS sebagai aset aman, sekaligus mengurangi ruang untuk penguatan mata uang Asia.
Analisis Indeks Dolar AS dan Sentimen Pasar
Indeks dolar AS (DXY) pada saat yang sama berada di level 98,636, menguat tipis 0,05%. Meski pergerakannya relatif terbatas pagi ini, pasar mengamati bahwa DXY telah ditutup naik dalam dua hari perdagangan terakhir, mencerminkan konsistensi dukungan terhadap dolar AS.
Meski pergerakannya terbatas, pasar memperkirakan Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) akan menunda keputusan pemangkasan suku bunga tahun ini. Shock energi yang kembali memanas membuat inflasi sulit dipangkas, sehingga ruang kebijakan moneter AS terbatas.
Kinerja Mata Uang Lain di Asia
Selain rupiah, peso Filipina dan baht Thailand juga mengalami tekanan signifikan. Peso turun 0,62% ke PHP 60,46/US$, sementara baht Thailand melemah 0,43% ke THB 32,36/US$. Mata uang Korea Selatan (won) turun 0,21% ke KRW1.481,5/US$, dan ringgit Malaysia menurun 0,25% ke MYR 3,96/US$. Dolar Taiwan mengalami penurunan 0,15% ke TWD 31,51/US$, sedangkan dolar Singapura melemah 0,07% ke SGD 1,276/US$. Yuan China juga terkoreksi tipis 0,02% ke CNY 6,828/US$.
Dua mata uang Asia yang mampu menguat adalah dong Vietnam (VND) naik 0,08% ke 26.300/US$ dan yen Jepang (JPY) kena 0,01% ke 159,46/US$. Pergerakan ini menunjukkan keberagaman respons pasar terhadap berbagai faktor eksternal.
Dalam situasi ini, pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan inflasi akibat kenaikan harga energi akan bertahan lebih lama. Hal ini mempersempit ruang untuk kebijakan pemangkasan suku bunga AS, yang berdampak pada dinamika penguatan mata uang Asia.