Latest Program: USU kembangkan bahan bakar ganda untuk mesin diesel ramah lingkungan
USU kembangkan bahan bakar ganda untuk mesin diesel ramah lingkungan
Medan – Para ilmuwan dari Fakultas Teknik USU berhasil menciptakan solusi berbasis bahan bakar ganda dan partikel nano, yang dikerjakan oleh Prof Tulus Burhanuddin Sitorus dan Dr. Eng Taufiq Bin Nur. Dalam wawancara di Medan, Kamis, Prof Tulus mengatakan hasil penelitian mereka telah dipublikasikan di jurnal internasional Applied Energy. Menurutnya, mesin diesel tidak harus menjadi ancaman bagi lingkungan, terutama dengan pendekatan inovatif yang menggabungkan tiga teknologi utama: bahan bakar ganda, nano-additives, dan sistem pembakaran modern.
Kombinasi Teknologi untuk Efisiensi dan Keberlanjutan
Dalam penelitian tersebut, tim menekankan pentingnya integrasi berbagai alternatif bahan bakar, bukan hanya mengandalkan satu jenis. Mereka menyatakan bahwa masa depan energi terletak pada kombinasi cerdas, yang bisa mengurangi dampak lingkungan tanpa mengganti infrastruktur lama. Contohnya, campuran amonia dan hidrogen meningkatkan efisiensi termal hingga 42 persen dibandingkan solar murni. Campuran ini juga menghasilkan pembakaran lebih stabil dan hampir tidak mengeluarkan karbon dioksida.
“Ini adalah solusi yang tidak hanya visioner, tapi juga realistis untuk negara berkembang seperti Indonesia,” ujar Prof Tulus. “Banyak penelitian internasional fokus pada satu bahan bakar alternatif, tapi kami melihat potensi kombinasi yang lebih efektif.”
Dalam sistem bahan bakar ganda, biodiesel dengan desain injektor elips meningkatkan efisiensi sebesar 15 persen, sementara metanol memberi kenaikan hingga 12 persen. Namun, masing-masing bahan bakar memiliki kelemahan. Biodiesel, meski mengurangi emisi karbon monoksida dan debu, justru meningkatkan nitrogen oksida karena suhu pembakaran yang lebih tinggi. Hidrogen, di sisi lain, sangat reaktif dan sulit dikendalikan.
Rahasia Peningkatan Emisi dan Efisiensi
Dr. Eng Taufiq Bin Nur menambahkan bahwa partikel nano menjadi faktor kunci. Dengan menggunakan katalis mikro berupa Aluminium oksida (Al2O3) dan Cerium oksida (CeO2), tim berhasil meningkatkan atomisasi bahan bakar. Butiran yang lebih halus memungkinkan pembakaran sempurna, sehingga emisi karbon monoksida dan hidrokarbon berkurang lebih dari 20 persen. Efisiensi termal juga meningkat secara signifikan.
“Dengan penambahan yang kecil, perubahan yang dihasilkan sangat besar. Ini adalah contoh bagaimana inovasi sederhana bisa memengaruhi masa depan energi,” kata Dr. Eng Taufiq.