Official Announcement: IDAI: Beri informasi positif untuk edukasi kelompok antivax
IDAI Sarankan Edukasi Antivax dengan Fokus pada Manfaat Vaksin
Di Jakarta, Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Hartono Gunardi, menekankan pentingnya menyampaikan informasi positif mengenai dampak negatif penyakit jika tidak divaksin. Menurutnya, keputusan seseorang untuk menerima vaksin bergantung pada persepsi terhadap tingkat keparahan penyakit. Jika penyakit dianggap tidak berbahaya, vaksin mungkin dianggap kurang penting. Namun, jika dijelaskan bahwa penyakit tersebut dapat menyebabkan komplikasi serius hingga kematian, orang tua akan lebih mempertimbangkan manfaat vaksinasi.
Karena penerimaan vaksin oleh seseorang itu dipengaruhi oleh persepsi terhadap beratnya penyakit itu. Kalau penyakitnya ringan, apalah gunanya nih vaksin. Tapi kalau kita sampaikan bahwa penyakit ini bisa mengakibatkan komplikasi macam-macam dan menyebabkan kematian mereka akan berpikir kembali,” kata Hartono.
Hartono mengungkapkan adanya dua kategori utama dalam keraguan vaksin. Pertama, kelompok yang menerima vaksin tanpa pertimbangan lebih lanjut, sementara yang kedua adalah mereka yang menolak semua jenis vaksin, terlepas dari alasan apa pun. Contohnya, sebagian orang tua menunda vaksin MR hingga anak bisa bicara, menunjukkan bahwa ada kelompok yang tergolong masih bisa diarahkan melalui edukasi.
Menurut Hartono, anak yang tidak menerima vaksin sama sekali disebut zero dose. Batasan ini didefinisikan sebagai anak yang belum mendapatkan dosis pertama vaksin DTP. Risiko utamanya adalah meningkatnya kemungkinan Kejadian Luar Biasa (KLB) karena anak-anak tersebut menjadi sasaran penyebaran penyakit.
“Zero dose children adalah anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi sama sekali. Batasan operasionalnya adalah yang belum mendapatkan vaksin DTP yang dosis pertama. Bahayanya apa? Kita hidup berdekatan dengan Kejadian Luar Biasa (KLB),” katanya.
Lebih lanjut, Hartono menjelaskan bahwa jika anak zero dose berada di lingkungan dimana mayoritas anak lainnya juga belum divaksin, potensi penyebaran infeksi akan meningkat drastis. Hal ini membahayakan kesehatan massal. Oleh karena itu, Hartono menekankan pentingnya peran media massa dan tokoh pengaruh dalam membangun kesadaran publik mengenai manfaat vaksinasi.
Evy Rachmawati, Kepala Desk Humaniora Kompas, mengatakan bahwa sebagai jurnalis, menyampaikan berita dengan efisiensi tinggi dan menyesuaikan format peliputan sangat penting, terutama mengingat perhatian audiens semakin terbatas. Ia menyarankan penggunaan narasi positif, seperti pengalaman orang tua yang melihat manfaat vaksinasi pada pertumbuhan anak.
“Nah itu sebuah narasi yang positif, narasi yang kemudian-kemudian menggugah. Kadang orang juga suka ditakut-takutin, misalnya ada dampaknya,” kata Evy.
Senada, aktris Maudy Koesnaedi menambahkan bahwa jika orang tua bimbang mengenai imunisasi, perlu menambah wawasan. Menurutnya, kesehatan anak merupakan tanggung jawab orang tua, baik untuk kebaikan anak maupun masyarakat sekitar. Ia juga menekankan bahwa kesehatan anak adalah fondasi pembangunan negara, sehingga penting bagi orang tua untuk membuat keputusan yang tepat demi kesejahteraan anak.
“Kesehatan anak kita juga akan menjadi sebuah modal untuk membangun negara kita. Kuncinya pembangunan negara itu jadilah orang tua yang memberikan keputusan yang tepat supaya anaknya sehat, lahir batin,” kata Maudy.