Latest Program: APHI siapkan antisipasi dini karhutla hadapi potensi El Nino 2026

APHI siapkan antisipasi dini karhutla hadapi potensi El Nino 2026

Jakarta – Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) meningkatkan upaya persiapan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam rangka mengurangi dampak potensi munculnya fenomena El Nino di tengah 2026. Fenomena ini diharapkan akan berpengaruh pada kondisi cuaca, khususnya dengan mengurangi tingkat hujan dan meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah daerah di Indonesia.

Ketua Umum APHI, Soewarso, menegaskan bahwa ancaman karhutla tidak bisa diabaikan. Menurutnya, kolaborasi serius dari seluruh anggota APHI diperlukan untuk mencegah kejadian tersebut. “Kita perlu melakukan antisipasi yang maksimal dengan berbagai tindakan pencegahan,” tutur Soewarso dalam pernyataannya di Jakarta, Kamis.

“Karhutla ini akibat dari beberapa faktor yang saling terkait, termasuk budaya dan sosial masyarakat yang masih menjadi tantangan di lapangan,” kata Soewarso.

Menurut Soewarso, pendekatan pencegahan harus komprehensif dan tidak terbatas. Ia menyoroti pentingnya kesiapsiagaan pemegang izin kehutanan serta koordinasi di tingkat tapak untuk menghadapi musim kemarau. Langkah preventif seperti patroli rutin, persiapan sarana pemadam kebakaran, dan edukasi masyarakat sekitar kawasan hutan harus diterapkan secara konsisten sejak awal.

Tenaga Ahli APHI, Asep Karsidi, menjelaskan bahwa perubahan iklim 2026 menunjukkan kemungkinan transisi menuju El Nino. Hal ini berpotensi mengurangi curah hujan secara signifikan, terutama di Sumatera dan Kalimantan. Kondisi seperti itu dapat memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan jika tidak diantisipasi secara dini.

“April hingga awal Mei 2026 menjadi fase penting untuk melakukan intervensi sebelum musim kemarau tiba,” ujarnya.

Asep menambahkan bahwa pendekatan pencegahan perlu bergeser dari reaktif ke antisipatif berdasarkan prediksi iklim. Penguatan sistem pemantauan dan pengelolaan air menjadi prioritas. Teknologi seperti Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga disebut sebagai alat strategis untuk menjaga kelembapan lingkungan jika digunakan tepat waktu.

Karhutla dianggap sebagai fenomena sistemik yang dipengaruhi oleh interaksi antara faktor atmosfer, hidrologi, dan aktivitas manusia. Oleh karena itu, pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh, mencakup prediksi cuaca, pengelolaan sumber daya air, teknologi intervensi, serta pengendalian praktik pembukaan lahan.

APHI menekankan komitmen untuk mendorong kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Pemerintah pusat dan daerah dianggap memiliki peran kritis dalam sosialisasi dini mengenai potensi musim kemarau yang lebih panjang. Dukungan terhadap Masyarakat Peduli Api (MPA) juga diperlukan, melalui peningkatan kapasitas dan insentif agar upaya pencegahan menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *