Special Plan: INDEF: Biofuel bisa jadi jembatan transisi menuju EV
INDEF: Biofuel bisa jadi jembatan transisi menuju EV
Jakarta, 3T areas (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) menjadi fokus utama dalam upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) fosil. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) berpendapat bahwa biofuel, seperti biodiesel dan bioetanol, dapat menjadi alternatif transisi sebelum kendaraan listrik (EV) digencarkan. Menurut Andry Satrio Nugroho, kepala Center of Industry, Trade, and Investment INDEF, biofuel bisa berfungsi sebagai bridging fuel selama proses peralihan ke EV.
“Biofuel bahkan menurut saya bisa menjadi bridging fuel sebelum ke EV,” ujar Andry dalam acara bertajuk Menuju Elektrifikasi Kendaraan Tanpa Bocor Anggaran di Jakarta, Kamis.
Andry menekankan bahwa peran biofuel lebih dominan di wilayah yang belum dilengkapi infrastruktur pendukung EV. Dengan beralih ke biofuel, masyarakat dapat meminimalkan penggunaan BBM fosil sambil menunggu pembangunan sistem pendukung kendaraan listrik. “Segmen yang berbeda menurut saya masih diperlukan. Di beberapa daerah, BBM tetap dibutuhkan sementara kita menyiapkan infrastruktur EV,” tambahnya.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merencanakan penerapan kebijakan mandatori biodiesel 50 (B50) mulai 1 Juli 2026, yang akan mencakup seluruh sektor. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa uji coba B50 untuk sektor otomotif telah dimulai sejak 9 Desember 2025. Hasil sementara menunjukkan kualitas bahan bakar B50 memenuhi standar yang ditetapkan.
Uji jalan B50 akan selesai pada Mei 2026, sementara pengecekan kondisi mesin dijadwalkan rampung Juni 2026. Proses ini bertujuan memastikan keandalan bahan bakar alternatif sebelum diterapkan secara luas. Eniya menegaskan bahwa B50 saat ini dalam tahap evaluasi untuk mendorong adopsi yang berkelanjutan.